BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
create your own banner at mybannermaker.com!

Tuesday, August 17, 2010

Hukum Kultum di Sela-sela Tarawih

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad juga kepada para keluarganya sahabat dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat. Amma ba'du:

Pembaca yang dirahmati Allah Ta'alaa

Fenomena yang kita lihat di bulan suci Ramadhan di mana kebanyakan manusia bersemangat dalam menjalankan ibadah Tarawih sehingga hal ini dimanfaatkan para imam masjid atau ustadz untuk menyampaikan tausiah di sela-sela shalat Tarawih. Sebagian ulama ada yang melarangnya, sebagian lagi ada yang membolehkannya walaupun secara rutin sehingga waktu untuk shalat Tarawih sendiri tidak sebanding dengan waktu tausiah, belum lagi keyakinan sebagian orang bahwa hal ini wajib. Maka bagaimana hal itu ditinjau dari hukum syar'ie'?


Beberapa fatwa sejumlah ulama dalam hal itu:

Syeikh Utsaimin rahimahullah
pernah ditanya:di tempat kami di Kuwait ada tausiah setelah empat rakaat dalam shalat tarawih, apakah ini diperbolehkan? dan jika boleh bagaimana seharusnya tausiah ini?

Beliau menjawab:

Saya berpendapat sebaiknya tidak dilakukan.
Pertama:karena itu bukan termasuk tuntunan para salafus shalih.

Kedua: karena sebagian orang mungkin hanya ingin datang untuk tahajud (tarawih) lalu pulang kerumahnya, maka hal ini akan menjadi rintangan dan membosankan bagi mereka, dan paksaan untuk mendengarkan tausiah ini, karena tausiah jika tidak diterima hati maka mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, oleh karena itu Nabi shallallahu ’alaihi wasallamselalu memilih waktu yang tepat untuk memberi nasihat kepada para sahabat karena beliau tidak ingin memberatkan mereka maupun mengulang-ulang tausiah, maka saya berpendapat bahwa lebih utama ditinggalkan, dan jika imam ingin menyampaikan tausiah kepada jamaah shalat maka hendaknya menjadikannya di akhir waktu, yaitu apabila shalat telah selesai.

Syeikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hal itu dalam (Pertemuan Terbuka:118).

Dalam kesempatan lain beliau ditanya : apa hukum tausiah antara shalat tarawih atau di tengahnya dan dilakukan secara terus-menerus?

Maka Syeikh Utsaimin menjawab: ”Adapun tausiah maka jangan, karena hal ini bukan termasuk tuntunan para salafus shalih, akan tetapi boleh memberi tausiah jika diperlukan atau kalau mau setelah selesai shalat Tarawih, tapi kalau hal ini dimaksudkan untuk ta’abbud (sebagai bentuk ritual wajib) maka hukumnya bid’ah, dan tanda menjadikannya sebagai ta’abbud adalah dengan merutinkannya setiap malam, kemudian kami katakan: kenapa ya akhi kamu memberi tausiah kepada manusia? Barangkali sebagian orang memiliki kesibukan lain dan hanya ingin menyelesaikan shalat Tarawih lalu pulang ke rumah supaya dapat mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam: (Barangsiapa shalat bersama hingga selesai maka ditulis untuknya seperti qiyamul lail sepanjang malam).

Jadi apabila kamu ingin menyampaikan tausiah dan ada setengah jamaah shalat yang menginginkan bahkan tiga perempat jama’ah maka jangan kamu halangi seperempatnya lagi untuk pulang disebabkan keinginan tiga perempatnya, bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: (apabila salah seorang dari kalian menjadi imam shalat maka hendaklah dia meringankan karena dibelakangnya ada yang lemah, sakit dan punya keperluan), yakni: jangan kamu samakan orang dengan dirimu atau orang yang suka mendengar ceramah dan tausiah, ukurlah manusia dengan apa yang membuat mereka nyaman, shalatlah Tarawih dengan mereka dan apabila kamu telah selesai dan berpaling dari shalatmu dan orang-orang telah berpaling maka sampaikan apa yang kamu inginkan. Kita memohon kepada Allah supaya memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amal shalih...”

Syeikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

Apakah imam masjid dalam shalat Tarawih boleh menyampaikan tausiah diantara rakaat shalat?

Beliau menjawab: boleh dan tidak boleh, apabila peringatan, perintah dan larangan disebabkan adanya perkara penting yang tiba-tiba maka ini perkara wajib, adapun apabila itu dijadikan sebagai aturan kebiasaan...maka ini menyelisihi sunah.(Silsilah Huda wan Nur: 656).

Syeikh Al-Albani rahimahullah berkata:

”Qiyam Ramadhan disyariatkan semata untuk meningkatkantaqarrub kita kepada Allah Ta’ala dengan shalat Tarawih, oleh karena itu maka kami tidak berpendapat untuk mencampuradukkan antara shalat tarawih dengan hal yang berkaitan dengan ilmu dan taklim dan semacamnya, seharusnya hanya diisi dengan shalat Tarawih yang merupakan ibadah murni, adapun ilmu maka ada waktunya, tidak dibatasi dengan waktu, hanya perlu diperhatikan maslahat orang yang belajar, ini aslinya dan saya inginkan dari sini bahwa siapa yang membuat kebiasaan mengajarkan manusia diantara setiap raka’at seperti dalam shalat Tarawih dan itu dijadikan kebiasaan, maka itu termasuk perkara baru yang menyelisihi sunah”. Disarikan dari kaset Silsilah Huda wan Nur nomer: 693 menit ke28 oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah.

Syeikh Jibrin rahimahullah pernah ditanya:

Apa hikmahnya Qiyam Ramadhan disebut dengan Tarawih? Dan apa pendapat anda bahwa yang lebih utama memanfaatkan waktu istirahat dalam shalat Tarawih dengan menyampaikan kalimat atau tausiah ?

Beliau menjawab: disebutkan dalam kitab Al-Manahilul Al-Hassan (dari Al-A’raj) berkata: kami tidak mendapati manusia melainkan mereka mengutuk orang-orang kafir di Ramadhan, dia berkata: dahulu imam membaca surat Al-Baqarah dalam empat rakaat, dan apabila dia bangkit kerakaat dua belas manusia melihatnya telah meringankan, (dari Abdullah bin Abu Bakar) berkata: aku mendengar ayahku berkata: ”dahulu kami dalam ramadhan keluar dari Qiyamul Lail lalu bergegas menyiapkan makanan, karena kuatir ketinggalan sahur”... dimana manusia dizaman sekarang meringankan shalat, yaitu mengerjakannya dalam satu jam atau kurang, maka tidak perlu lagi untuk duduk istirahat, karena mereka tidak merasakan capek atau berat, akan tetapi yang lebih utama jika sebagian imam memisahkan antara rakaat Tarawih dengan duduk istirahat, atau berhenti sebentar untuk istirahat, maka yang lebih utama duduk ini diisi dengan nasihat atau peringatan, atau membaca kitab yang bermanfaat, atau tafsir ayat yang dibaca oleh imam, atau tausiah, atau mengingatkan salah satu hukum syar’ie, sehingga mereka tidak keluar atau bosan.Wallahu A’lam.

Syeikh Al-Munajjid hafidhahullah pernah ditanya dalah situs Al-Islam Sual wal Jawab:
Soal no: 38025 mengenai penyampaian ceramah setelah empat rakaat dari shalat Tarawih yaitu apa hukum syar’ie ceramah yang disampaikan setelah empat rakaat dalam shalat Tarawih?

Beliau menjawab: Alhamdulillah, pelajaran yang disampaikan sebagian imam atau ustadz diantara rakaat shalat Tarawih tidak mengapa Insya Allah, yang lebih baik tidak dirutinkan, kuatir manusia meyakini bahwa itu sebagian dari shalat Tarawih, dan kuatir mereka menyakini kewajibannya sehingga barangkali mereka mengingkari orang yang meninggalkannya. Imam atau ustadz boleh saja menyampaikan tausiah kepada manusia sesuai yang mudah dari hukum syar’ie terutama masalah yang mereka perlukan dalam bulan ini dengan catatan untuk meninggalkannya sekali-kali sebagaimana disebutkan sebelumnya.

Kesimpulan:

Sebagaimana kita lihat sebagian ulama membolehkan tausiah seperti ini dan sebagian melarangnya meski tidak secara mutlak, maka sebagai jalan tengahnya sebaiknya tausiah tersebut tidak dilakukan secara rutin supaya orang tidak menyangka sebagai bagian dari Qiyam Ramadhan atau supaya tidak membosankan karena sebagian ustadz jika sudah menyampaikan kalimat atau tausiahnya tidak menyampaikan poin yang penting tetapi ngalor ngidul sehingga memakan banyak waktu, dengan demikian orang yang hanya ingin shalat bersama imam hingga selesai supaya mendapat fadhilah shalat sepanjang malam jadi dirugikan.

Yang lebih utama lagi menjadikannya setelah shalat Isya’ sebelum tarawih sehingga bagi yang hanya ingin ikut shalat bisa keluar dan pulang terlebih dulu, atau menjadikannya setelah shalat Tarawih sempurna walaupun kebanyakan orang sudah keluar, tidak mengapa karena memang hal ini tidak wajib, bagi yang memang ingin mendapatkan ilmu dia tentu akan tetap duduk mendengarkan.

Namun untuk melarangnya secara keseluruhani dengan alasan termasuk perkara bid’ah maka barangkali ini kurang bijaksana karena perbedaan pendapat ulama diatas, apalagi momen seperti Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan tausiah karena kebanyakan manusia bersungguh dalam beribadah di masjid.

Mudah-mudahan amalan kita di bulan Ramadhan ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Wallahu A’lam bishowab.

(ar/voa-islam.com)

Read More......

Friday, August 13, 2010

MASYHUR DI HADAPAN ALLAH

Bismillah...

Perintah ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada manusia dan jin bertujuan akhir mencapai hamba yang bertaqwa.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam( Qs Ali Imran:102).

Taqwa secara etimologis berarti waspada diri dan takut. Taqwa kepada Allah secara terminologis adalah melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan Allah sebagaimana yang dilarang oleh Allah.Ketaqwaan inilah yang menjadi penilaian Allah terhadap diri kita apakah termasuk yang dimuliakan Allah atau tidak.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs.Al Hujurat:13)

Begitu juga dengan ibadah shaum, akhir dari pencapaian ibadah ini adalah derajat taqwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa(Qs. AlBaqarah:183)
Ukuran penghargaan adalah dari taqwa itu sendiri bukan karena banyaknya sanjungan, jabatan, status yang tinggi, dan lain sebagainya.
Memang ada manusia yang tidak dikenal tidak masyhur di kalangan masyarakat, tapi justru terkenal di hadapan Allah.Seperti dalam kisah seorang tabi'in ( generasi sahabat), beliau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah langsung tapi Rasulullah mendapat wahyu bahwa ada tabi'in yang namanya masyhur di hadapan Allah karena ketaqwaannya. Ia adalah UWAIS AL QORNI.


Uwais bin ‘Amir Al-Qoroni adalah tabiin terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[1] dari Umar bin Al-Khotthob ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda,Berkata An-Nawawi, “Ini jelas menunjukan bahwa Uwais adalah tabi’in terbaik, mungkin saja dikatakan “Imam Ahmad dan para imam yang lainnya mengatakan bahwa Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik”, maka jawabannya, maksud mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik dalam sisi ilmu syari’at seperti tafsir , hadits, fiqih, dan yang semisalnya dan bukan pada keafdlolan di sisi Allah”[2]Berikut ini kami menyampaikan sebuah hadits yang berkaitan dengan kisah Uwais Al-Qoroni yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalah shahihnya[3]. Namun agar kisahnya lebih jelas dan gamblang maka dalam riwayat Imam Muslim ini kami menyelipkan riwayat-riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadroknya, Abu Ya’la dan Ibnul Mubarok dalam kedua musnad mereka.
Dari Usair bin Jabir berkata, “Umar bin Al-Khotthob, jika datang kepadanya amdad dari negeri Yaman maka Umar bertanya mereka, “Apakah ada diantara kalian Uwais bin ‘Amir ?”, hingga akhirnya ia bertemu dengan Uwais dan berkata kepadanya, “Apakah engkau adalah Uwais bin ‘Amir?”, ia berkata, “Iya”. Umar berkata, “Apakah engkau berasal dari Murod[4], kemudian dari Qoron?”, ia berkata, “Benar”. Umar berkata, “Engkau dahulu terkena penyakit baros (albino) kemudian engkau sembuh kecuali seukuran dirham?” ia berkata, “Benar”. ((Pada riwayat Abu Ya’la[5]: Uwais berkata, “Dari mana engkau tahu wahai Amirul mukminin?, demi Allah tidak seorang manusiapun yang mengetahui hal ini.” Umar berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami bahwasanya akan ada diantara tabi’in seorang pria yang disebut Uwais bin ‘Amir yang terkena penyakit putih (albino) lalu ia berdoa kepada Allah agar menghilangkan penyakit putih tersebut darinya, ia berkata (dalam doanya), “Ya Allah sisakanlah (penyakit putihku) di tubuhku sehingga aku bisa (selalu) mengingat nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku”…”)) Umar berkata, “Engkau memiliki ibu?”, ia menjawab, “Iya”, Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan perang penolong dari penduduk Yaman dari Murod dari kabilah Qoron, ia pernah terkena penyakit albino kemudian sembuh kecuali sebesar ukuran dirham, ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya itu, seandainya ia (berdoa kepada Allah dengan) bersumpah dengan nama Allah maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Maka jika engkau mampu untuk agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untukmu maka lakukanlah)), oleh karenanya mohonlah kepada Allah ampunan untukku!” ((Dalam suatu riwayat Al-Hakim[6] : “Engkau yang lebih berhak untuk memohon ampunan kepada Allah untukku karena engkau adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”)), lalu Uwaispun memohon kepada Allah ampunan untuk Umar. Lalu Umar bertanya kepadanya, “Kemanakah engkau hendak pergi?”, ia berkata, “Ke Kufah (Irak)”, Umar berkata, “Maukah aku tuliskan sesuatu kepada pegawaiku di Kufah untuk kepentinganmu?”, ia berkata, “Aku berada diantara orang-orang yang lemah lebih aku sukai”.
((Dalam riwayat Al-Hakim[7] : Kemudian Uwaispun mendatangi Kufah, kami berkumpul dalam halaqoh lalu kami mengingat Allah, dan Uwais ikut duduk bersama kami, jika ia mengingatkan para hadirin (yang duduk dalam halaqoh tentang akhirat) maka nasehatnya sangat mengena hati kami tidak sebagaimana nasehat orang lain. Suatu hari aku (yaitu Usair bin Jabir) tidak melihatnya maka aku bertanya kepada teman-teman duduk (halaqoh) kami, “Apakah yang sedang dikerjakan oleh orang yang (biasa) duduk dengan kita, mungkin saja ia sakit?”, salah seorang berkata, “Orang yang mana?”, aku berkata, “Orang itu adalah Uwais Al-Qoroni”, lalu aku ditunjukan dimana tepat tinggalnya, maka akupun mendatanginya dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, dimanakah engkau?, kenapa engkau meninggalkan kami?”, ia berkata, “Aku tidak memiliki rida’ (selendang untuk menutup tubuh bagian atas), itulah yang menyebabkan aku tidak menemui kalian.”, maka akupun melemparkan rida’ku kepadanya (untuk kuberikan kepadanya), namun ia melemparkan kembali rida’ tersebut kepadaku, lalu akupun mendiamkannya beberapa saat lalu ia berkata, “Jika aku mengambil rida’mu ini kemudian aku memakainya dan kaumku melihatku maka mereka akan berkata, “Lihatlah orang yang cari muka ini (riya’) tidaklah ia bersama orang ini hingga ia menipu orang tersebut atau ia mengambil rida’ orang itu”. Aku terus bersamanya hingga iapun mengambil rida’ku, lalu aku berkata kepadanya, “Keluarlah hingga aku mendengar apa yang akan mereka katakan!”. Maka iapun memakai rida’ pemberianku lalu kami keluar bersama. Lalu kami melewati kaumnya yang sedang bermasjlis (sedang berkumpul dan duduk-duduk) maka merekapun berkata, “Lihatlah kepada orang yang tukang cari muka ini, tidaklah ia bersama orang itu hingga ia menipu orang itu atau mengambil rida’ orang itu”. Akupun menemui mereka dan aku berkata, “Tidak malukah kalian, kenapa kalian menggangunya (menyakitinya)?, demi Allah aku telah menawarkannya untuk mengambil rida’ku namun ia menolaknya!”))
Pada tahun depannya datang seseorang dari pemuka mereka[8] dan ia bertemu dengan Umar, lalu Umar bertanya kepadanya tentang kabar Uwais, orang itu berkata, “Aku meninggalkannya dalam keadaan miskin dan sedikit harta” ((Dalam riwayat Ibnul Mubarok[9] : orang itu berkata “Ia adalah orang yang jadi bahan ejekan di kalangan kami, ia dipanggil Uwais”)). Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan perang penolong dari penduduk Yaman dari Murod dari kabilah Qoron, ia pernah terkena penyakit albino kemudian sembuh kecuali sebesar ukuran dirham, ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya itu, seandainya ia (berdoa kepada Allah dengan) bersumpah dengan nama Allah maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Maka jika engkau mampu untuk agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untukmu maka lakukanlah)), maka orang itupun mendatangi Uwais dan berkata kepadanya, “:Mohonlah ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau lebih baru saja selesai safar dalam rangka kebaikan maka engkaulah yang memohon ampunan kepada Allah untukku”, orang itu berkata, “:Mohonlah ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau lebih baru saja selesai safar dalam rangka kebaikan maka engkaulah yang memohon ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau bertemu dengan Umar?”, Orang itu menjawab, “Iya”. ((Dalam riwayat Al-Hakim[10] : Uwais berkata, “Aku tidak akan memohonkan ampunan kepada Allah untukmu hingga engkau melakukan untukku tiga perkara”, ia berkata, “Apa itu?”, Uwais berkata, “Janganlah kau ganggu aku lagi setelah ini, janganlah engkau memberitahu seorangpun apa yang telah dikabarkan Umar kepadamu” dan Usair (perowi) lupa yang ketiga)) Maka Uwaispun memohon ampunan bagi orang itu. Lalu orang-orangpun mengerti apa yang terjadi lalu iapun pergi[11]. Usair berkata, “Dan baju Uwais adalah burdah (kain yang bagus yang merupakan pemberian si Usair) setiap ada orang yang melihatnya ia berkata, “Darimanakah Uwais memperoleh burdah itu?”[12]
1. Tidak berarti orang yang kedudukannya di sisi Allah mulia harus merupakan orang yang terhormat, dihargai manusia, perkataannya di dengar, ilmunya banyak, dan bebas dari tuduhan-tuduhan. Lihatlah Uwais Al-Qoroni…???

Beliau adalah seorang penduduk negeri Yaman yang hampir tidak ada yang mengenalnya. Beliau adalah orang yang miskin, bahkan saking miskinnya beliau tidak bisa menemui para sahabatnya karena tidak memiliki kain untuk menutupi jasadnya bagian atas, bahkan merupakan bahan ejekan di kaumnya, bahkan ada yang menuduhnya tukang menipu untuk mengambil milik orang lain, kaumnya mengingkarinya jika ia memakai burdah (kain yang bagus) dan menuduhnya mendapatkannya dari jalan yang tidak benar karena saking terlalu miskinnya beliau, dan inilah penilaian manusia yang mengukur dengan penilaian materi.

Betapa banyak orang yang teristidroj dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah-pen) padahal dia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan keadaannya dimana kebutuhannya selalu terpenuhi, dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah. Kebanyakan manusia menjadikan tiga perkara (pujian manusia, terpenuhinya kebutuhan, dan aib yang selalu tertutup) ini merupakan tanda kebahagiaan dan keberhasilan. Sampai disitulah rupanya ilmu mereka….

Beliau melanjutkan,”…. semua kekuatan baik yang nampak maupun yang batin jika diiringi dengan pelaksanaan perintah Allah dan apa yang diridhoi Allah maka hal itu adalah karunia Allah, jika tidak demikian maka kekuatan tersebut adalah bencana. Setiap keadaan yang dimanfaatkan untuk menolong agama Allah dan berdakwah di jalan-Nya maka hal itu merupakan karunia Allah, jika tidak , maka hanyalah merupakan bencana. Setiap harta yang disertai dengan berinfaq di jalan Allah bukan untuk mengharapkan ganjaran manusia dan terima kasih mereka maka dia adalah karunia Allah. Jika tidak demikian maka dia hanyalah bumerang baginya….dan setiap sikap manusia yang menerima dirinya dan pengagunggan serta kecintaan mereka padanya jika disertai dengan rasa tunduk, rendah, dan hina dihadapan Allah, demikian juga disertai pengenalannya terhadap aib dirinya dan kekurangan amalannya dan usahanya menasehati manusia maka hal ini adalah karunia Allah, jika tidak demikian maka hanyalah bencana…..oleh karena itu hendaknya seorang hamba mengamati point yang sangat penting dan berbahaya ini agar dapat membedakan antara karunia dan bencana, anugrah dan bumerang baginya karena betapa banyak ahli ibadah dan berakhlak mulia yang salah paham dan rancu dalam memahami pembahasan ini.”[13]

2. Keutamaan Ikhlas dan menyembunyikan amalan-amalan sholeh.Perkara-perkara yang menunjukan keikhlasan Uwais dan jauhnya beliau dari cinta kepada ketenaran.
1. Tatkala Umar berkata kepadanya, “Maukah aku tuliskan sesuatu kepada pegawaiku di Kufah untuk kepentinganmu?”, makapun ia berkata, “Aku berada diantara orang-orang yang lemah lebih aku sukai”.
2. Perkataan Uwais kepada Umar, “Dari mana engkau tahu wahai Amirul mukminin?, demi Allah tidak seorang manusiapun yang mengetahui hal ini.”. Hal ini menunjukan bahwa beliau meskipun terkabulkan do’anya oleh Allah namun beliau tidak pernah menceritakan hal ini kepada orang lain, karena hal ini bisa menimbulkan kesan kepada orang yang mendengar bahwa beliau adalah orang yang mulia yang doanya didengar oleh Allah. Meskipun menceritakan kenikmatan yang Allah berikan kepada seseorang disyari’atkan akan tetapi sebagian orang tidak ikhlas tatkala menceritakan kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepadanya yaitu niatnya dalam rangka agar para pendengar menganggapnya adalah orang yang hebat, yang spesial sehingga diberi kenikmatan oleh Allah.
3. Perkataan beliau kepada orang yang memintanya untuk berdoa baginya, “Janganlah engkau memberitahu seorangpun apa yang telah dikabarkan Umar kepadamu”
4. Sikap beliau yang mengasingkan diri tatkala orang-orang mengetahuinya merupakan orang yang terkabulkan do’anya.
5. Keadaan beliau yang menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. An-Nawawi berkata, “Hal ini (yaitu keadaan Uwais yang menjadi bahan olokan kaumnya) menunjukan bahwasanya beliau menyembunyikan ibadahnya (hubungan antara ia dan Robnya), dan ia sama sekali tidak menampakkannya walau sedikitpun. Ini merupakan jalan orang-orang yang mengenal Robb mereka dan para wali Allah[14]
Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar :“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga).
Berkata Syaikh Abdulmalik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah”[17]Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keikhlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan : “Ini Ayyub”[18]Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”[19]Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”[20]Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya’”[21]Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”[22]Berkata Hammad: “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun berkata padanya: “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab:”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata :”Ya Allah sesungguhnnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.”[23]Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr: “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata :”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata :”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak :”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa :” Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata :”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.”[24]Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar..inilah akhlak salaf[25]. Namun banyak orang yang terbalik…mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata :”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata :Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari :”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata :Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku solat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”[28]Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah)?? …., Allahu Al-Musta’an, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau dapat orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata :”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata:”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian..” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan. Atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata: “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia. Lihatlah….Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau….6. Berkata Imam An-Nawawi, “Hadits ini menunjukan akan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”[29]Uwais di sisi Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan hal yang menyebabkan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya tersebut. Sikapnya yang berbakti kepada ibunya menjadikannya seorang yang dikabulkan doanya. Nabi tidak menyebutkan amalan lain yang dilakukan oleh Uwais kecuali bahwasanya ia berbakti kepada ibunya. Hal ini menunjukan sikapnya yang berbakti kepada ibunya merupakan salah satu sebab utama yang menjadikannya menjadi tabi’in yang terbaik. Wallahu A’lam.
7. Tidak berarti seorang yang berilmu pasti lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang kurang berilmu. Terkadang manusia tertipu, tatkala ia telah memiliki ilmu syar’i maka dia memandang bahwa dirinya lebih mulia di sisi Allah daripada orang lain yang tidak memiliki ilmu setinggi ilmunya. Dia lupa bahwasanya jalan-jalan untuk memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah bukan hanya ilmu. Bisa jadi seseorang memang kurang memiliki ilmu akan tetapi ia meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah dengan amalan-amalan ibadah yang lain. Bisa jadi orang tersebut lebih baik daripada dia dalam ibadah-ibadah hati. Sebagaimana Uwais Al-Qoroni beliau bukanlah seorang tabi’in yang masyhur dengan ilmu sebagaimana Ibnul Musayyib, akan tetapi lihatlah… baktinya kepada ibunya serta keikhlasannya yang luar biasa dengan menyembunyikan amalan-amalan shalehnya serta benci akan popularitas menjadikan beliau adalah tabi’in yang paling afdhol di sisi Allah. Wallahu A’lam.

Oleh karena itu seseorang yang telah berilmu atau bisa beribadah dengan baik janganlah sampai tertipu dan kagum terhadap dirinya lalu memandang bahwa dirinya lebih afdol dan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dari pada orang lain yang kurang berilmu. Ini merupakan salah satu bentuk zuhud yang diperintahkan oleh Nabi untuk diamalkan.Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata, “Dikatakan kepada Al-Hasan (Al-Bashri) atau yang lainnya, “Siapakah orang yang zuhud?”. Maka beliau berkata,“Dia adalah orang yang melihat orang lain dan menyangka orang tersebut lebih baik daripada dirinya”. Ini merupakan makna yang agung yang dikembangkan oleh Al-Hasan dimana dia berkata, “Orang yang zuhud adalah yang menyatakan orang lain lebih mulia daripada dirinya”. Yaitu jika ia melihat seseorang dari kaum muslimin maka ia memandang orang tersebut lebih mulia daripada dirinya –yaitu di sisi Allah-. Dan hal ini berarti (hatinya) tidak terikat dengan dunia, ia memandang rendah dirinya di sisi Allah, ia tidak merasa tinggi dihadapan orang-orang. Hal ini hanya bisa timbul pada orang yang diberikan karunia oleh Allah lalu memenuhi hatinya dengan harapan terhadap akhirat serta jauh dari keterikatan dengan dunia…”[30]
8. Hendaknya seseorang selalu berusaha mengingat-ngingat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Lihatlah Uwais tatkala berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitnya ia berkata, “Ya Allah sisakanlah (penyakit putihku) di tubuhku sehingga aku bisa (selalu) mengingat nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku”. Betapa banyak orang yang hanya bisa merasakan kenikmatan yang Allah berikan kepadanya tatkala ia kehilangan kenikmatan tersebut. Terkadang kita lupa akan kenikmatan kesehatan yang Allah berikan kepada kita dan kita hanya bisa benar-benar merasakannya tatkala kita sakit. Tidaklah benar-benar merasakan besar nikmat mata dan telinga kecuali orang yang tadinya melihat dan mendengar kemudian menjadi buta dan tuli.Sebagian orang tatkala dalam keadaan miskin berdoa kepada Allah agar diberi rizqi dengan berjanji seandainya Allah melapangkan rizkinya maka ia akan banyak bersedekah. Namun tatkala Allah melampangkan rizkinya maka iapun lupa dengan nikmat Allah. Allah berfirman:
Adapun jika tidak mengandung perkara-perkara yang dilarang maka hukum asalnya adalah boleh. Namun meskipun demikian kita katakan bahwasanya tidaklah semestinya meminta do’a, karena hal ini bukanlah kebiasaan para sahabat yaitu saling meminta do’a diantara mereka. Adapun hadits yang diriwayatkan dari Nabi bahwasanya beliau berkata kepada Umar, “Janganlah lupa wahai saudaraku untuk mendoakan kami dengan do’a yang sholeh”, maka hadits ini adalah hadits yang lemah dan tidak sah dari Nabi. Adapun permintaan sebagian sahabat kepada Nabi (untuk mendoakan mereka) maka telah diketahui bersama bahwasanya tidak seorangpun yang mencapai derajat Nabi, yaitu Tsabit bin Qois bin Asy-Syammasy telah meminta kepada Nabi, demikian juga Ukkasyah bin Mihshon telah meminta kepada Nabi agar berdoa kepada Allah agar Allah menjadikannya termasuk dari orang-orang yang masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau termasuk mereka”. Demikian juga datang seseorang menemui Nabi untuk meminta Nabi berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan. Adapun wasiat Nabi kepada para sahabat untuk meminta kepada Uwais Al-Qoroni untuk berdoa bagi mereka maka hal ini jelas hanyalah khusus bagi Uwais Al-Qoroni, karena telah diketahui bersama bahwasanya Uwais tidak sama derajatnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan tidak juga sahabat-sahabat yang lain, namun meskipun demikian Nabi sama sekali tidak mewasiatkan para sahabat untuk meminta do’a kepada salah seorangpun (dari mereka).

Kesimpulannya kita katakan bahwasanya tidak mengapa meminta do’a kepada orang yang diharapkan do’anya terkabul dengan syarat hal itu tidak mengandung suatu perkara yang dilarang. Meskipun demikian meninggalkan hal ini (meminta do’a kepada orang lain) adalah lebih afdhol dan utama”[32]Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “Syaikh yang mulia, apakah meminta do’a kepada orang lain yang nampaknya merupakan orang yang sholeh menunjukan lemahnya tawakkal pada orang yang meminta?. Jika perkaranya demikian, maka bagaimanakah penjelasan Anda tentang Umar bin Al-Khotthob yang meminta do’a kepada Uwais Al-Qoroni padahal Umar lebih afdhol daripada Uwais?”

Syaikh Utsaimin berkata, “Meminta kepada orang lain untuk mendoakannya kalau bukan hanya hal ini (mengandung perkara yang tercela) kecuali adanya permintaan kepada manusia…, padahal Rasulullah diantara perkara-perkara yang Rasulullah membai’at para sahabatnya adalah Adapun yang engkau sebutkan tentang Umar yang meminta kepada Uwais untuk berdo’a baginya maka hal ini atas perintah Nabi dan hal ini juga merupakan hal khusus bagi Uwais. Oleh karena itu Nabi tidak meminta Umar untuk meminta do’a kepada Abu Bakar atau yang lainnya, padahal Abu Bakar lebih afdhol daripada Umar, lebih afdhol daripada Uwais, dan lebih afdhol dari sahabat-sahabat yang lainnya. Akan tetapi hal ini khsusus bagi Uwais dimana Nabi meminta kepada orang-orang yang bertemu dengan Uwais untuk berkata kepadanya, “Berdo’alah untukku”. Dan permasalahan-permasalahan yang khusus tidak bisa diumumkan melewati tempat khususnya.”[34]Syaikh Sholeh Alu Syaikh pernah ditanya, “Apakah jika seseorang meminta orang lain mendoakannya dengan niat karena orang yang dimintai doa adalah orang yang dikabulkan doanya berbeda dengan orang yang meminta untuk didoakan, apakah ini merupakan kesyirikan?”Beliau menjawab, ((Meminta doa dari makhluk pada asalnya hukumnya adalah boleh jika makhluk yang dimintai doa tersebut dalam keadaan hidup dan mampu untuk berdoa. Ada sebuah hadits dalam kitab sunan yang dijadijadikan pegangan oleh para ulama meskipun sanadnya lemah bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wassalam berkata kepada Umar[35]. Dan ada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang Uwais Al-Qoroni ((Barangsiapa yang mampu didoakan oleh Uwais maka lakukanlah)), hal ini menunjukan bahwa meminta didoakan dari orang yang hidup hukumnya adalah boleh, dan para sahabat meminta doa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun di sana ada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa meninggalkan meminta doa dari orang yang hidup adalah lebih utama kecuali jika dalam keadaan dimana orang yang meminta untuk didoakan berharap untuk mendapatkan manfaat dan juga agar yang diminta untuk berdoa juga mendapatkan manfaat. Ia berkata, “Jika orang yang meminta untuk didoakan mengharapkan manfaat bagi yang berdoa dan bagi yang didoakan berbarengan maka hukumnya adalah boleh. Adapun jika yang meminta doa berharap kemanfaatan untuk dirinya sendiri maka meninggalkan meminta doa kepada orang lain adalah lebih utama”
Memiliki keyakinan terhadap seseorang bahwa ia terkabul doanya lalu dimintai doa “Wahai fulan doakanlah kami”, yang seperti ini dapat menjadi sebab timbulnya keyakinan-keyakinan (yang syirik) pada dirinya setelah kematiannya. Jika ia diminta (untuk mendoakan) sekali atau dua kali (maka tidak mengapa), adapun selalu dimintai “Doakanlah kami wahai fulan”, maka ini bukanlah jalan para salaf)) (dari syarah kasyfus syubhat).
Artikel www.firanda.com

Read More......

Thursday, August 12, 2010

Do'a Berbuka Puasa

Segala puji bagi Allah shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad keluarganya para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba'du:


Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa


Saat berbuka puasa merupakan saat yang dinantikan oleh mereka yang berpuasa, namun jangan lupa untuk membaca doa supaya puasa dan makanan kita mendatangkan keberkahan.
   



Doa setelah melaksanakan beberapa ibadah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam syari’at seperti doa setelah melaksanakan shalat-shalat dan manasik haji, demikian juga termasuk puasa Insya Allah, apalagi Allah Ta’alaa telah menyebutkan ayat anjuran berdoa diantara ayat-ayat puasa yaitu firman-Nya:



قوله تعالى : ( وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون ) البقرة / 186


Artinya: (dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengkabulkan seruan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran)
[QS Al-Baqarah:186]

Ayat diatas menunjukkan pentingnya berdoa dibulan mulia ini.

Ketahuilah bahwa orang yang berpuasa kemungkinan besar doanya dikabulkan Allah Ta’alaa sebagaimana disebutkan di dalam hadits:


[ثلاث دعوات لا ترد : دعوة الوالد ودعوة الصائم ودعوة المسافر]( صحيح).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ((ada tiga doa yang tidak ditolak: doanya orang tua, doanya orang yang berpuasa dan doanya musafir)) HR Al-Baihaqi dari haidtsnya Anas radhiallahu anhu marfu’ (3/345) dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam Mukhtashar Silsilah Shahihah (4/406 no:1797).

Beliau mengatakan: hadits ini ada beberapa penguat dengan lafal yang beragam diantaranya: disebutkan “doanya yang terzalimi” sebagai ganti “doanya orang yang berpuasa”, diantaranya:


(ثلاثة لا ترد دعوتهم : الصائم حتى يفطر والإمام العادل ودعوة المظلوم) . أخرجه أحمد وغيره وصححه ابن حبان.


Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ((ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi)) HR Ahmad dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Adapun diantara doa yang diriwayatkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa adalah:


وعن معاذ بن زهرة قال : إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أفطر قال :" اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت " فقد رواه أبو داود ( 2358 ) وهو حديث مرسل ، فهو ضعيف ، ضعيف أبي داود (510 ) للألباني .


Dari Mu’adz bin Zahrah berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka mengucapkan: (Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu) HR Ibnu Sunni dalam kitabnya “Amalul Yaumi wal Lailah” dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu no:481, dan Abu Dawud no: 2358 dan dalam sanadnya ada Abdul Malik bin Harun bin Antarah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan Ad-Daruquthni. Dan beliau berkata: Yahya berkata: demikianlah dia. Abu Hatim berkata: dia matruk (ditinggalkan). Ibnu Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad 2/51: hadits ini tidak benar.

Syeikh Al-Albani mengatakan: hadits lemah sanadnya disamping karena mursal juga perawinya Muadz bin Zahrah majhul (tidak dikenal) Lihat Irwaul Ghalil (4/38).

Ada riwayat yang lebih shahih yang menjelaskan tentang doa berbuka puasa:


قال عمر : " كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : " ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله " .

رواه أبو داود ( 2357 ) والدارقطني ( 25 ) ، وقال ابن حجر في " التلخيص الحبير " ( 2 / 202 ) : " قال الدارقطني : إسناده حسن " .


Dari Umar radhiallahu anhu berkata: “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka puasa mengucapkan:

(Dzahaba dzoma’ wab tallatil ‘uruuq wa tsabatal ajru Insya Allah”

Artinya: “telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan dan telah tetap pahalanya Insya Allah”

HR Abu Dawud (2357) dan Ad-Daruquthni (25), Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya “At-Talkhis Al-Habir” (2/202): (Ad-Daruquthni berkata: sanadnya baik).

Hadits diatas lebih utama diamalkan dari pada sebelumnya karena derajatnya lebih baik.

Secara dhahirnya hadits ini dibaca saat sudah mulai berbuka puasa bukan sebelumnya. Wallahu A’lam.

(ar/voa-islam.com)



Read More......

Melatih Anak untuk Mencintai Ramadhan dengan Shaum


Bulan suci Ramadhan telah tiba. Meskipun anak yang belum mencapai usia akil baligh belum diwajibkan untuk berpuasa, tidak ada salahnya mengajarkan mereka hikmah Ramadhan sejak dini.
 

Di bulan suci ini seluruh umat muslim di berbagai penjuru dunia diwajibkan berpuasa sehari penuh selama sebulan. Jika anak masih terlalu kecil untuk diajak menahan lapar dan dahaga seharian, tidak ada salahnya melatih mereka berpuasa setengah hari atau jika memang anak sanggup full day, itu suatu anugerah dari Allah, semoga bisa berkelanjutan dan semakin menambah keimanan seiring bertambah usianya kelak.

Nah, berikut ini adalah sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membuat bulan suci Ramadhan lebih berkesan bagi buah hati Anda:

Sahur bareng
Bangunkan si kecil ketika tiba waktu bersantap sahur, dan ajak dia membaca niat untuk berpuasa seperti anggota keluarga lainnya. Mulanya, anak mungkin akan sulit dibangunkan bahkan merengek. Tapi, lambat laun dia akan terbiasa. Sajikan menu favorit si kecil agar dia lebih bersemangat untuk bangun sahur.

Buka bersama
Ajak anak untuk duduk bersama seluruh anggota keluarga lain saat berbuka puasa, meski pun dia tidak berpuasa atau telah berbuka lebih dulu pada siang hari. Sajikan hidangan favoritnya di atas meja, dan biarkan anak belajar bagaimana anggota keluarga lain berbuka tepat pada saat adzan berkumandang.

Atau, ajak anak melaksanakan ibadah sholat magrib di masjid dan berbuka puasa bersama dengan komunitas muslim lainnya.

Taraweh berjamaah
Ajak anak melaksanakan sholat taraweh secara berjamaah selama bulan Ramadan, baik di masjid atau pun di rumah, agar mereka terbiasa melaksanakannya sejak usia dini. Jika lelah, anak bisa duduk di bagian belakang shaf. Tapi, pastikan Anda telah memperingatkannya agar tidak gaduh dan berbuat onar.

Berbagi
Bulan Ramadhan merupakan waktu yang mulia untuk bersedekah. Ajak anak menyiapkan hidangan berbuka yang dimasukkan ke dalam kotak-kotak, untuk dibagikan kepada fakir miskin yang kurang beruntung. Kegiatan ini akan mengajarkan anak nilai bersedekah yang sangat penting dalam ajaran Islam.

Kegiatan Positif lainnya
Beri kegiatan-kegiatan yang bisa mengalihkan konsentrasi lapar dan haus mereka, dengan sesuatu yang bernilai positif. Seperti contohnya, Ramadhan kali ini, saya mencoba mengumpulkan teman-teman sepermainan anak kami untuk belajar AlQur'an di rumah atau sekedar bincang-bincang, mendengarkan cerita-cerita islami, muroja'ah dsb. Kebersamaan ini insyaAllah dapat memicu semangat ber shaum pada anak, karena biasanya melakukan aktifitas bersama teman akan lebih menyenangkan.

Semoga dengan melakukan tips diatas, menjadikan semangat tersendiri pada kita selaku orang tua dan anak khususnya dalam mencintai Ramadhan,sehingga melaksanakan shaum bukan menjadi beban bagi anak-anak kita.Yaa, semuanya adalah proses.Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi...????




Read More......

Apa yang Sudah Anda Siapkan Untuk Menyambut Ramadlan?

Saudaraku, . . . Ramadlan akan mendatangi kita dalam hitungan jam. Kami yakin sudah banyak pesan dan nasihat yang Anda dapatkan untuk menghidupkan bulan Ramadlan. Namun, kiranya tidak salah jika kami juga ikut menitipkan tulisan ini agar menjadi bagian amal shalih kami dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran.

Saudaraku, . . . apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyambut Ramadlan?

Apakah anda sudah pergi ke pasar dan membeli bekal makanan dan minuman untuk anda nikmati saat berbuka dan sahur? Ataukah Anda sudah menyiapkan televise dan antena baru untuk menjadi hiburan selama bulan yang mulia ini? Ataukah Anda sudah menyiapkan beberapa agenda dengan kawan-kawan untuk mengatur buka puasa bersama atau pertemuan-pertemuan lainnya?

Saudaraku, . . . satu hal yang terpenting yang harus kita siapkan untuk menyambut Ramadlan adalah dengan ketaatan dan berbagai amal kebajikan. Muliakanlah Ramadlan dengan ketaatanmu, jangan Anda sambut Ramadlan dengan buruknya kemaksiatan-kemaksiatan.

Satu hal yang terpenting yang harus kita siapkan untuk menyambut Ramadlan adalah dengan ketaatan dan berbagai amal kebajikan.

Saudaraku, . . . bacalah Al-Qur’an dan jadikan dia sebagai penerang dalam kuburmu sesudah kematian serta sebagai saksi yang membelamu di hadapan Rabbmu ketika bertemu dengannya.

Saudaraku, . . . jagalah shalat jama’ah selama bulan Ramadlan ini dan bergaulah dengan teman-teman yang baik lagi shalih karena mereka akan membantumu untuk tetap komitmen di atas jalan yang benar. Yaitu jalan surga yang selalu engkau cari.

Saudaraku, . . . . jauhilah perkataan-perkataan buruk, kotor, suka mencela, bohong dan dusta serta berteriak-teriak laksana orang bodoh yang kurang beradab. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan puasa kita kalau perkataan-perkataan buruk itu masih ada. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya serta perbuatan bodoh, maka Allah tidak butuh dengan puasa untuk meningalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud) Artinya: Allah tidak akan menerimanya.

Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, tetangga, dan saudara-saudaramu. Jangan engkau bentak pembantu di rumahmu. Nasihati keluarga dan sahabat-sahabatmu serta ajak mereka kepada jalan yang lurus.

Saudaraku, . . . belilah mushaf dan hadiahkan kepada kaum muslimin agar engkau memiliki saham dari bacaan Al-Qur’an mereka, mendapat pahala bacaan Al-Qur’an yang berlipat ganda.

Bershadaqahlah kepada kaum fakir dan miskin, jangan pelit untuk mengeluarkan hartamu fi sabilillah. Gemarlah berinfak dan bantulah orang kesusahan dan kesulitan. Taruhlah sebagian hartamu pada kotak amal lalu berharaplah pahala dari Allah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallaahu 'anhu, ia berkata, “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadlan ketika Jibril 'alaihis salam menemuinya. Jibril datang menemui beliau pada saat malam di bulan Ramadlan hingga berakhir, lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepadanya. Apabila Jibril menemuinya, beliau adalah orang yang paling dermawan dibandingkan angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadlan . . .

Saudaraku, . . . sempatkanlah untuk tetap shalat di tengan malam atau lebih sedikit, agar terhitung sebagai orang yang bangun di saat manusia tertidur. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berilah makan, shalat malamlah ketika manusia tidur, maka engkau akan bisa masuk surge dengan sejahtera.” (HR. Al-Tirmidzi dari Abdullah bin Salam)

Bergaulah dengan manusia secara baik sebagai bentuk cinta kepada mereka dan bershadaqah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sambunglah tali silaturahim orang yang berusaha memutus hubungan denganmu. Berilah maaf kepada orang yang telah berbuat salah kepadamu, karena salah satu sifat orang bertakwa adalah ringan memberi maaf. Jangan pula lupa, mohonkan ampunan untuk dirimu dan segenap kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad: 19)

Berilah maaf kepada orang yang telah berbuat salah kepadamu, karena salah satu sifat orang bertakwa adalah ringan member maaf.

Saudaraku, . . . Peliharalah lisanmu dari berkata dusta, kedua matamu dari melihat yang haram, kedua telingamu dari mendengarkan musik-musik jahiliyah, hatimu dari hasad dan dengki, kedua tanganmu dari berbuat salah, kedua kakimu dari berjalan menuju tempat-tempat maksiat dan sia-sia.

Saudaraku, . . . sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak dan luas. Sementara pintu-pintu keburukan juga sangat banyak dan luas. Mana di antara keduanya yang engkau pilih, wahai orang yang cerdas dan berakal? Surga yang luasnya seluas langit dan bumi ataukah neraka yang selalu murka dan marah, selalu berkata: “Masih adakah tambahan?”

Saudaraku, . . . Sambutlah Ramadlan tahun ini dengan penuh kesemangatan. Berilah perhatian besar untuk memanfaatkannya, karena boleh jadi engkau tidak mendapati lagi Ramadlan tahun depan. Bahkan tidak ada jaminan pula kita bisa menjalani Ramadlan tahun ini sampai habis.

Saudaraku, . . . manfaatkan dengan baik Ramadlan kali ini, berlombalah dalam ketaatan dan kembali kepada Allah. Sesungguhnya engkau pasti mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman dengan engkau kembali kepada-Nya. Janganlah menjadi bagian orang yang menawarkan dirinya untuk disiksa di Jahannam, karena engkau tidak akan mampu menahan keras siksanya. Karena setiap matang kulitmu, maka akan diganti dengan kulit yang lain agar merek merasakan siksa pedih.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Terakhir saya ulangi pertanyaan, apa yang sudah Anda siapkan untuk menyambut Ramadlan? (PurWD/voa-islam.com)

Oleh: Badrul Tamam

Read More......

Friday, August 6, 2010

Forgive me...



Read More......

Thursday, August 5, 2010

Marhaban Yaa Ramadhan



Read More......