BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
create your own banner at mybannermaker.com!
Showing posts with label IBROH. Show all posts
Showing posts with label IBROH. Show all posts

Wednesday, March 16, 2011

Bermimpi ke Tanah Suci



Hari itu...seorang teman meminjamkan VCD yang berjudul "Emak Ingin Naik Haji". Spontan saya langsung menyambut hangat kebaikannya, Bersama suami..kami putar dan menonton di malam harinya. Berulang kali kami mengusap airmata yang kadang menetes lancar, disertai isak tangis kami. Yaa, kami ambil ibroh dari manapun, memfilternya dan memang ada yang membekas di hati kami..


kata-kata emak seperti:


“Kalaupun Allah keburu memanggil emak sebelum emak sempat pergi ke sana, emak ikhlas kok. Raga emak mungkin nggak mampu buat mengarungi samudera luas begitu untuk pergi ke tanah suci.” sejenak emak terdiam, lalu melanjutkan dengan mata berkaca, “Tapi emak yakin…, Allah PASTI tahu…., hati emak sudah lama ada di situ… sudah lama ada di situ…”.


Dalaaaam sekali makna ucapan itu, seolah-olah menampar diri saya. Keinginan itu..?? mirip dengan cita-cita saya??..Ya Allah..hiks..

***************

Dalam salah satu status yang saya update di salah satu situs jejaring sosial yaitu semoga bukan hanya mimpi dan keinginan semata, Allah Maha Berkehendak. Yaa, kurang lebih seperti itu lah...
Dalam mengarungi kehidupan, semua orang punya keinginan dan tujuan hidup. Kebahagiaan bisa dianalogikan relatif. Kebahagiaan satu orang belum tentu akan sama dengan arti kebahagiaan orang yang lainnya. Itu Realita.

Entahlah....dari masa kanak-kanak, sampai detik punya anak-anak sekarang ini, hati ini selalu terenyuh, bergetar jika membicarakan Tanah Suci di Mekkah sana. Keinginan yang selalu bergemuruh, tapi tidak bisa berbuat banyak, hanya sekedar keinginan, mimpi, atau khayalan belaka yaa..??

Keinginan banyak yang belum tercapai, tapi...langsung lenyap, ga ada artinya jika dibandingkan dengan mimpi ke Baitullah. Ya, saya bilang untuk saat ini adalah mimpi, karena memang belum ada kesempatan dan kesanggupan dalam segi materi...hmmm, basi kedengarannya yaa..? yang jelas, saya tau kapasitas kami mengapa belum terealisasinya berbagai keinginan kami itu.

Terserah, mereka yang punya kemampuan dan kesempatan bisa touring ke luar negeri, ke pelosok bagian dunia lainnya, sekedar refreshing dari aktivitas pekerjaan yang membludak, yang semua itu bisa mereka jadikan sarana untuk tetap mengingat Allah dimanapun mereka berada. Karena bumi Allah itu luas, kesempatan untuk mentadaburi alam ciptaan Allah bisa dalam bentuk dan cara masing-masing individu, tapi..tetap tidak bisa mengelak, kecemburuan yang bergejolak di hati saya ketika banyak saudara-saudari kita yang berkesempatan ke tanah suci. Itu saja yang mulai menghampiri perasaan saya. Koq mereka bisa yaa?? Subhanallah, Kapan giliran saya yaa? dan banyak pertanyaan di dalam hati yang kadang tidak butuh jawaban.

Ya Allah..betapa beruntungnya mereka yang bisa menikmati suasana Mekkah yang indah, tempat yang menjadi kiblat seluruh kaum muslimin sedunia. Tempat yang penuh history, banyak kisah perjuangan dari Bapak Tauhid umat Islam, Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam yang dijadikan sejarah. Perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya terukir dengan indahnya,yaa di tempat suci itu. Tempat yang disucikan Allah, otomatis menjadi keberkahan tersendiri dari negeri itu ketika beribu-ribu bahkan jutaan umat Islam berbondong-bondong mengunjungi dalam rangka memenuhi rukun Islam yang ke lima. Subhanallah!

Secara naluriyah, mungkin kita akan senang ketika bertemu bahkan berkumpul dengan suatu komunitas yang sama, bayangkan! Jutaan orang berkumpul untuk satu tujuan, menyempurnakan rukun Islamnya, berkumpul jadi satu, bersama menguccapkan kalimat-kalimat pujian dan rasa syukur yang tiada henti kepada Rabb semesta alam, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tiada lah ucapan yang terlontar kecuali ucapan yang baik,permohonan dalam do'a dan rasa bersalah dengan istighfar, Wah..tentunya..nuansa yang penuh emosional. kedekatan yang sangat terasa, kedekatan dengan Allah yang diimpi-impikan jama'ah disana yang penuh dengan atmosfir haru biru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Satu tujuan, hanya untuk beribadah. Terlihat semua sama, kaya, miskin..semua sama berbalut dengan pakaian yang akan menjadi teman akhir kita, teman kembali kita nantinya. kain putih yang terbalut itu akan selalu mengingatkan akan kematian dan makin menambah kekhusyu'an beribadah dan berdo'a dan selalu berusaha mencari Ridho-Nya. Berada di tempat bersejarah, melihat makam Rasulullah, tauladan yang selama ini hanya ada dibayangan kita, tentunya akan terlintas jelas mengingat bagaimana berat perjuangan Rasulullah memperjuangkan dienul Islam bersama para sahabatnya, bahkan sampai akhir hayatnya masih saja memikirkan tentang umatnya..ummati..ummati..ya Allah,Kami rindu padamu yaa Rasulullah...

Berdo'a di raudhah yang dijanjikan diijabah Allah.Do'a yang tidak lain dipanjatkan untuk selalu mendapat ampunan Allah, diberi Rahmat Allah dan selalu mendapat kasih sayang dan lindungan Allah sampai akhir masa kita.

hmm... Sungguh,kesempatan yang jangan sampai disia-siakan, karena tidak semuanya bisa berhasil kesana. Beruntunglah mereka!

**********

Antusias yang sangat mendalam, ketika banyak cerita menyertai kepulangan teman, sahabat, saudara dari tanah suci. Seperti membangkitkan energi positif dalam diri, kenikmatan-kenikmatan mereka dapatkan, bisa melihat ka'bah secara langsung, bisa sholat, bermunajat dan berdo'a dengan khusyu', melihat langsung makam Rasulullah, dan berbagai ritual haji lainnya.

Malu..sebenarnya jika mendengar dan membaca kisah dari jama'ah yang bisa kesana, entah haji atau sekedar umroh semata. Semuanya adalah rahasia Allah dan kegigihan dari hamba-Nya yang memang berusaha dan selalu berdo'a tulus..deep into their heart..

Kenapa saya bicara begitu..??
Kesempatan itu memang harus dicari, sekali lagi..bagaimana proses atau usaha kita dalam merealisasikannya keinginan dan impian itu.

Kisah tukang becak yang dengan ijin Allah, bisa berhasil ketanah suci..padahal secara logika, dia tidak punya kemampuan dalam segi materi. Ada satu amalan yang selalu ia lakukan, dengan SHODAQOH. Ya..ia melakukan shodaqoh di dalam kesempitannya, setiap hari jum'at ia menggratiskan seluruh penumpang yang naik becaknya, kemanapun penumpang itu ingin diantarkan. Hanya itu yang kontinue ia lakukan disertai niat ikhlas dan tulus serta azzam yang kuat berharap Allah beri kemudahan ia pergi ke tanah suci. Alhamdulillah..akhirnya ia pun bisa berangkat, justru dari salah satu penumpang yang ia antarkan sendiri dalam program shodaqohnya. Subhanallah..

Jika si tukang becak saja bisa, kenapa kita tidak..???

Begitu selalu pertanyaan yang ada di pikiran saya. Shodaqoh apa yang bisa jadi andalan saya saat ini? amalan apa yang bisa menjadi kategori ketertarikan Allah sehingga mengabulkan keinginan terpendam ini?

Ya Allah, rasanya..terlalu banyak pertimbangan dan angan-angan, tapi tidak bisa memberikan yang terbaik untuk agama ini. Membayangkan sholat di depan ka'bah dan berdo'a selalu, berharap Allah berikan jalannya, titip do'a jika ada teman yang berkesempatan lebih dulu kesana , tidak saya sia-siakan. Kita tidak tahu, dari lisan siapa Allah kabulkan do'anya, mungkin dari dia..atau dia..atau dia..kita tidak tahu khan?

Tapi.. Saya yakin Allah Maha Kuasa atas segalanya, Allah Maha Besar kasih sayang Nya, Do'a saya selalu...Semoga Allah menjadikan Haji sebagai salah satu rezeki buat kami, dan kami berharap bisa segera ke tanah suci di usia yang muda, sehat, dan ilmu yang menyertai..amiin..amiin ..ya Rabbal'alaamin..


Wallahu'alam bishawab.













Read More......

Monday, March 7, 2011

Kisah SEDEKAH Salah Alamat

Pengantar


Apabila seorang hamba menjalankan perintah Allah, maka tidak ada dosa jika dia salah dalam apa yang dilakukannya. Allah tidak mengurangi pahalanya dan tidak menyia-nyiakan balasannya. Dalam hadis berikut ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan kepada kita tentang seorang laki-laki yang bertekad untuk bersedekah secara diam-diam. Dia bersedekah selama tiga malam. Satu kali sedekahnya jatuh di tangan pencuri. Kali kedua, di tangan wanita pezina. Dan di tangan orang kaya pada kali ketiga. Hal itu membuatnya sedih dan gelisah. Maka, dalam mimpi dia didatangi dan dikatakan bahwa sedekahnya telah diterima, dan dijelaskan kepadanya bahwa sedekah kepada mereka yang tidak berhak menerimanya mengandung pelajaran dan faedah.

Teks Hadits


Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Seorang laki-laki berkata, 'Sungguh aku akan bersedekah.' Lalu dia pergi membawa sedekahnya. Dia meletakkannya di tangan pencuri. Di pagi hari orang-orang membicarakannya, 'Seorang pencuri diberi sedekah.'
Dia berkata, 'Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sungguh aku akan bersedekah.' Lalu dia pergi membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan wanita pezina. Di pagi hari orang-orang membicarakan, 'Malam ini seorang pezina diberi sedekah.' Dia berkata, 'Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekahku jatuh di tangan wanita pezina. Sungguh aku akan bersedekah.'
Lalu dia pergi membawa sedekahnya dan dia meletakkannya di tangan orang kaya. Di pagi hari orang-orang membicarakannya, 'Seorang kaya di beri sedekah. Dia berkata, 'Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Kepada pencuri, wanita pezina, dan orang kaya.' Lalu dia didatangi dalam mimpi, dan dikatakan kepadanya, 'Adapun sedekahmu kepada pencuri, semoga itu membuatnya insyaf dari mencuri. Adapun wanita pezina, semoga itu membuatnya sadar dari zinanya. Adapun orang kaya, maka semoga dia mengambil pelajaran dan dia berinfak dari apa yang Allah berikan kepadanya.'"
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dalam Kitabuz Zakat, bab jika dia bersedekah kepada orang kaya sementara dia tidak mengetahui, 3/290, no.1421.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya di Kitabuz Zakat, bab tetapnya pahala orang yang bersedekah walaupun ia jatuh di tengan orang yang tidak berhak menerimanya, 2/709, no.1022.
Hadis ini dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 7/90. Ia juga diriwayatkan oleh Nasa'i dalam Sunan-nya(5/55).
Penjelasan Hadis
Dalam setiap generasi dan masa di mana terdapat Islam, terdapat pula orang baik yang rindu berbuat kebaikan. Mereka melakukan ketaatan dengan ikhlas dan suka rela. Mereka tidak menuntut balasan dan rasa syukur dari manusia.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang ingin bersedekah secara diam-diam. Yang tahu hanyalah Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Sedekah secara rahasia memadamkan kemarahan Tuhan. Dan sedekah rahasia lebih baik daripada sedekah secara terbuka.
Di tengah malam dia keluar mencari orang yang berhak menerima sedekahnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang dia kira orang miskin, harta yang ingin dia sedekahkan dia berikan kepadanya, padahal laki-laki itu adalah pencuri. Di pagi hari di pasar dan di perkumpulan, orang-orang membicarakan pelaku sedekah yang memberikan hartanya di tangan pencuri.
Pencuri itu menyampaikan apa yang terjadi padanya. Berita seperti ini ditayangkan di masyarakat skala kecil, ia beredar dengan sanagt cepat. Berita itu didengar oleh pelaku dari orang-orang yang membicarakannya sementara mereka tidak mengetahui pelakunya. Dia bersedih dan gelisah. Kesedihannya dan kegelisahannya dia ungkapkan dengan ucapannya,"Ya Allah bagi-Mu segala puji, kepada pencuri."
Dia bertekad mengulanginya di malam berikutnya karena dia mengira bahwa sedekahnya telah hilang seperti debu ditiup angin. Ia tidak tepat sasaran menurut Tuhannya. Setelah malam menutupinya dengan kegelapannya dia keluar dengan sedekahnya. Dia memberikannya kepada seorang wania yang dia kira miskin ternyata dia adalah wanita pezina. Wanita ini bercerita seperti pencuri bercerita. Beritanya menyebear luas. Pelakunya mendengar itu. Kesedihan dan kegelisahannya bertumpuk, dia mengulangi ucapannya yang kemarin, "Ya Allah bagi-Mu segala puji, kepada wanita pezina."
Demi mencari pahala dia bertekad untuk bersedekah untuk kali ketiga. Pada malam ketiga sedekahnya jatuh di tangan orang kaya. Anda bisa membayangkan kesedihan laki-laki ini yang tidak pernah tepat dalam urusan yang diinginkanya sebanyak tiga kali. Anda bisa memprediksi keadaannya pada waktu dia mengadu kepada Tuhannya dengan penuh kepedihan,"Ya Allah bagi-Mu segala puji. Kepada pencuri, pezina dan orang kaya."
Laki-laki ini tidak mengetahui bahwa Allah menulis pahalanya. Orang yang menginfakkan hartanya demi mencari pahala Allah, Allah akan memberinya pahala walaupun si penerima tidak berhak untuk menerima.
Di dalam mimpinya dia datangi kabar gembira bahwa Allah menerima sedekahnya dan membalasnya dengan pahala. Dia diberitahu hikmah besar di balik sedekah kepada tiga orang tersebut. Semoga pencuri itu sadar akan kesalahannya lalu dia tidak mencuri. Semoga wanita pezina itu menjaga dirinya dari zina dengan harta itu dan semoga si kaya ini terdorong untuk berinfak meneladani laki-laki ini yang bersedekah di kegelapan malam agar tidak diketahui oleh orang lain demi mencari pahala dari Tuhan manusia.
Dalam Hadis-hadis disebutkan bahwa sedekah diterima walaupun ia jatuh ke tangan orang yang tidak diinginkan oleh pelaku sedekah. Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Yazid bin Akhnas memberikan dinar-dinarnya kepada seseorang di masjid, dia mempercayakan pembagiannya kepada yang berhak menerima, lalu anaknya Maan bin Yazid datang dan mengambilnya sementara dia tidak mengetahui bahwa sumbernya adalah bapaknya, dia membawanya kepada bapaknya, tentu saja bapaknya menolak menerima, dia berkata,"Demi Allah kamu bukanlah yang aku inginkan." Maka anaknya mengadu kepada Rasulullah. Maka Rasulullah memberikan fatwa dan keputusannya, "Bagimu apa yang kamu niatkan wahai Yazid dan bagimu apa yang kamu ambil wahai Maan." (Shahih Muslim, 3/291, no.1422).


Pelajaran-Pelajaran Dan Faedah-Faedah Hadits:


1. Pada umat terdahulu terdapat orang-orang shalih yang berbuat kebaikan dan gemar bersedekah. Mereka keluar di kegelapan malam untuk mencari para fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan.
2. Luasnya rahmat Allah dalam menerima sedekah walau pun jatuh ke tangan orang yang tidak berhak menerima
3. Kadangkala perbuatan seseorang memberi bekas yang baik, yang sebenaranya dia tidak menginginkannya, dan Allah memberinya pahala karenanya. Perbuatan laki-laki ini bisa jadi berguna bagi pencuri, pezina dan orang kaya dalam bentuk seperti yang disebutkan dalam hadis.
4. Keutamaan menerima qadha dan takdir Allah. Manakala Allah mentakdirkan sedekah laki-laki ini salah alamat dan tidak sampai di tangan fakir miskin, tapi dia menerima keputusan Allah dengan rela, maka Allah memberinya balasan kebaikan.
5. Mimpi yang benar termasuk mubassyirat (berita gembira). Itu adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian ke-nabi-an. Termasuk di dalamnya adalah mimpi laki-laki ini, ketika dia diberi berita gembira oleh Tuhannya dengan diterimanya sedekahnya dan dijelaskan kepadanya sesuatu perkara yang tidak dikenal dan diketahuinya.


Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 298-302.

Read More......

Friday, March 4, 2011

Give and Take

Sepasang suami istri mendatangi seorang ustadz yang dikenal sangat bijak dalam memutuskan perkara umat.


“Ustadz, tolong bantu kami. Kami sudah menikah selama 20 tahun, awalnya kami saling mencintai. Setelah pernikahan itu berjalan 20 tahun, lama-kelamaan rasa cinta itu mulai hilang, kini kami sudah tidak saling mencintai. Ustadz, tolong beri kami solusi,”


“Wahai saudaraku, Cintailah istrimu!”, jawab Ustadz itu singkat.




Sang suami bingung, dalam hatinya justru itu masalahnya. Maka, mulailah dia mengulangi lagi pertanyaannya, “Ustadz, kami sudah 20 tahun menikah dan kini sudah tidak saling mencintai!”


“Wahai saudaraku, Cintailah istrimu!”, jawab Ustadz dengan tegas.


Merasa tidak puas lagi dengan jawabannya, dia bertanya lagi, “Tapi ustadz, saya sudah tidak mencintai istri saya lagi?”


“Wahai saudaraku, Cintailah istrimu!, kata cinta bukan kata benda dan bukan kata sifat yang tiba-tiba ada. Tapi kata kerja, kata yang harus dikerjakan, diperjuangkan dan terus-menerus diupayakan!” jawabnya tegas.

Seseorang yang ingin mendapatkan cinta, dia harus berusaha dan berjuang untuk mencintai. Bagaimana mungkin cinta itu bisa tumbuh jika tidak ditanam, dan bagaimana mungkin bisa berbuah jika tidak pernah dipupuk, dirawat dan dijaga? Seorang yang ingin mendapatkan manisnya cinta, harus berjuang hingga cinta itu berbuah.

Sungguh, kita sering menginginkan cinta tanpa berusaha mencintai terlebih dahulu, ingin didengar tanpa berusaha mendengar, ingin dihargai tanpa berusaha menghargai. Siapa yang menanam pastilah dia yang akan memetiknya.

Hidup ini adalah sebab akibat, tanpa ada sebab tidak ada akibatnya. Yang harus kita lakukan bukan take and give, tapi give and take. Berikan, pasti anda akan mendapatkannya! karena satu biji yang kita berikan akan Allah balas dengan 700 biji. Karena Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.

Sumber: 



Ustadz.Bagus Hernowo

Pesantren Entrepeneur

Radio Dakta Bekasi 107 FM

Read More......

Thursday, February 10, 2011

Jika Akhwat Naik Ojek??

By: Ummu Zaid Taqy


Bismillahirrahmaanirrahiim...


"Um..panas banget nh, kita naek ojek aja yuk..". Haah??..*sambil bingung..tapi langsung tersadar.."afwan, ana ga bisa naik ojek, um.." kenapa? tanyanya bingung juga sambil sesekali menghapus keringatnya, karena terlalu lama menunggu angkot yang lamaaaa ga nongol-nongol.
Pertanyaan seperti itu, sering ana dapatkan, bukan hanya dari teman, bahkan orang tua dan saudari2 ana juga sering meledek abis. Ribet..!! kata mereka.


Sebenarnya hanya simple aja bagi ana, alasan menuruti perintah suami ketika baru menikah dulu.Awalnya juga sedikit bingung, kenapa sih? hari gini gituuu..? khan jadi lama nyampenya? toh, ga pegangan si abangnya, bla..bla..bla..
Yaa..itu alasan ana yang sampai detik ini, ga berani untuk melanggar. Berhusnudzhan saja, perintah suami hanya untuk kebaikan istrinya, karena itu mungkin salah satu sayangnya pada istri..ehm..ehm..

Tapi..tunggu dulu,..

Ga semua bisa menerima pendapat itu. Alasan tersebut dianggap terlalu berlebih2an. "aah, suami ente aja yang terlalu jeaulous". Apa bedanya naik ojek dengan naik taksi yang hanya berdua dg sopir, atau naik bis yang berdesak2an..Alasan dan "counter" yang beragam, semua ingin pembenaran.


***************

Sebenarnya, jika mengikuti fikiran layaknya human being, memang...terkesan mengada2, menyusahkan, dan menyulitkan diri sendiri, dan ujung2nya rencana tiba tepat waktu, meleset hanya karena fasilitas yang tidak ada, atau angkutan umum yang susah.Apalagi, sebagai seorang muslimah, sedikit kerepotan jika harus keluar rumah tapi angkutan umum yang jarang dan hanya ada ojek. Sebagai muslimah yang setiap tindak tanduknya selalu berusaha menjaga norma2 yang ada, tentunya agak kurang sreg jika harus berboncengan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.

Jika keadaan yang memang darurat, mungkin bisa dimaklumi..tapi, jika harus naik ojek pagi, siang, petang, tiap hari..apakah itu juga termasuk darurat??? Apalagi, masih ada alternatif lain, bisa dg berjalan kaki, naik angkutan umum, naik becak misalnya..??

Jadi ingat, pesan suami..lebih baik kamu jalan kaki, daripada naik ojek..! wiiiihh..sadis ga tuh kedengarannya..^_^..Tapi, Alhamdulillah..sampai detik ini, instruksi suami mudah2an selalu ana ingat dan jaga. Jujur, ga berani coba2...coba2 mangkir, coba2 diam2, coba2 bohong...Oh, Ga deh..jangan sampai. Allah Maha Melihat segalanya..Coba bayangkan, jika dalam keadaan ana naik ojek, eeh..tiba2 nyusruk atau jatuh..kebayang khan?? Takut dosa ah. hehe..

Lanjuut...

Motor tuh sudah banyak sekali yaa, abang2 becak saja sudah mulai tergilas dengan fenomena menjamurnya motor ini. Kemudahan kredit makin menambah jumlah pengendara di jalan raya, atau di sekolah-sekolah sekalipun.Anak2 SMP, SMA, sekarang udah jarang yang terlihat pakai sepeda ke sekolah atau jalan kaki. Parkiran sekolah sudah padat dengan motor. itu tidak hanya di jalan besar, di kampung2 pun sudah ga zaman yang pakai "kaki" lagi (baca: jalan) atau bersepeda ria.
Ya..iya,, mudah2an memang ekonomi negara kita memang sudah makin baik lah...*amiiiin....

Ga bisa dipungkiri, motor adalah pilihan yang paling tepat untuk berkendara. Terlebih kita lihat jalanan sekarang ini, macet dimana-mana. Bagi orang atau ummahat yang seperti ana yang tidak ada fasilitas motor (hihi..curhat), butuh banget akses cepat dan murah seperti motor tadi.

Keberadaan ojek, memang menggoda bagi ummahat/akhwat yang sering berinteraksi diluar rumah tapi tidak menggunakan fasilitas pribadi. Peran suami untuk terus mengantar istrinya juga terasa sulit karena juga punya kepentingan dan tanggung jawab yang lain. Tuntutan untuk interaksi sosial,taklim, dakwah kemana-mana serasa kontradiktif, ketika kita menganjurkan orang lain untuk berlaku secara kaffah tapi kita malah berboncengan dengan selain mahrom.

Masalah ini memang belum bisa dikatakan tuntas, terbukti..masih banyak terlihat ummahat/akhwat berkeliaran dengan menumpang ojek.Apakah hal ini bukan sesuatu yang urgent, sehingga bukan persoalan berat? atau memang faktor ketidaktahuan mereka..??

Hmm..jadi terinspirasi untuk mencari tau lebih, dari sekedar hanya menuruti perintah suami.

***********

Memang ada ketentuan di dalam syariat Islam tentang pergaulan antara laki-laki dan wanita. Salah satunya larangan untuk berduaan, bersentuhan atau saling bersamaan tanpa mahram.
Jika kendaraan tersebut (ojeg)di atasnya menggunakan, seperti pelana (semacam tempat duduk tersendiri, dengan pegangannya), atau yang sejenis, dimana kalau wanita tersebut naik di belakangnya, dia tidak akan menyentuh pemboncengnya, dan rute perjalanannya di dalam kota, dengan kata lain tidak melintasi kawasan terpencil, maka hukumnya boleh jika memenuhi dua syarat ini: (1) wanita tersebut naik di belakangnya, sementara dia tidak menyentuh pemboncengnya, dan (2) tidak membawanya, kecuali pada rute dimana mata orang bisa memandanginya. Alasannya, karena Rasulullah saw. pernah membawa Asma’ ra. (adik ipar Nabi) di Madinah, tatkala dia memikul beban yang berat di atas kepalanya. Maka, Rasulullah saw. hendak merundukkan untanya agar bisa dinaiki Asma’, namun Asma’ lebih suka melanjutkan perjalanannya, dengan tidak menaiki (unta Nabi). Sudah lazim diketahui, bahwa di atas unta itu ada punuk, dimana yang pertama bisa dinaiki oleh seseorang, setelah itu berikutnya bisa dinaiki di belakangnya, sementara orang yang kedua tidak harus menyentuh orang yang pertama. Punuk tadi ada di antara kedua orang tersebut. Orang yang kedua pun bisa memegang punuk tadi, sesuka hatinya. Dengan kata lain, unta itu merupakan kendaraan yang memungkinkan untuk dinaiki dua orang, dimana satu sama lain tidak harus saling berpegangan.

Al-Bukhari telah mengeluarkan dari Asma’ bint Abi Bakar berkata:

وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِيْ أَقْطَعَهُ رَسُوْلُ اللهِ  عَلَى رَأْسِيْ … إِلَى أَنْ تَقُوْلَ “ثُمَّ قَالَ الرَّسُوْلُ  إِخْ إِخْ لَيَحْمِلْنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ …”.

Saya pernah membawa benih dari tanah az-Zubair (suami saya), yang telah diberikan oleh Rasulullah saw., dipanggul di atas kepala saya… sampai pernyataan beliau: Kemudian, Rasulullah saw. berkata: Ikh, ikh agar beliau bisa membonceng saya di belakangnya, tetapi saya merasa malu..

Ikh, ikh maksudnya, beliau ingin merundukkan untanya (supaya bisa dinaiki Asma’ di belakangnya).

Karena itu, jika bagian punggung kendaraan tersebut memang siap untuk dinaiki dua orang, tanpa harus bersentuhan satu sama lain, sementara rute perjalanannya bukan di kawasan sepi (terpencil), maka hal itu boleh (mubah).
Tetapi, jika tidak (memenuhi dua syarat tersebut), maka tidak boleh (haram). maka bisa ditarik kesimpulan, bahwa naiknya wanita di ojek, dibelakang lelaki (bukan mahram) yang tidak ada sesuatu yang bisa memisahkan tempat duduknya, dalam konteks seperti ini hukumnya tidak boleh (haram). Namun, kalau orang-orang itu ingin membonceng di belakangnya, hendaknya membonceng kaum pria saja, atau membawa kaum wanita tersebut dengan mengendarai kendaraan (seperti motor tossa yang di belakangnya ada gerobak pengangkut, atau becak Aceh), sementara pria pengendaranya membawa mereka. Bukan dengan wanita tersebut naik di belakangnya (ojek), dan memegangi (tubuh pengemudi)-nya, maka ini hukumnya tidak boleh (haram).

***************

Yup..tantangan bagi muslimah sekarang ini. Disaat harus berjuang menjaga keistiqomahan dalam diri dalam menegakkan Islam secara kaffah tidak mudah. Tapi, memudah2kan segala sesuatu dengan alasan "darurat", khawatir akan membuka kehancuran dan menjadi "biasa", samar dan akhirnya tidak membekas sama sekali.

Solusinya..belajar berkendara sendiri atau usaha cari ojek perempuan atau bareng teman ikutan bonceng..hehe (pengalaman..). Alhamdulillah nya, teman2 seperjuangan ana sangat2 baik menawarkan diri untuk bareng atau jemput (jarang2 ada ojek yang cari penumpang) karena mungkin mereka tau, mereka suka jika mereka masih bermanfaat, semoga amal mereka diterima oleh Allah. Amiin

Jadi...Husnudzhon ana, jika ada akhwat / ummahat yang masih naik ojek..mungkin ia sedang dalam keadaan darurat. Semoga darurat itu tidak sering melanda kita, sehingga kita menjadi pengguna darurat langganan dan semoga kita tidak dalam kondisi darurat yang harus menggunakan jasa ojek.


Wallahu'alam bishawab..



Read More......

Wednesday, December 22, 2010

"My Mother"



Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kpd siapakah aku hrs berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut berta kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]




Who should I give my love to my respect and my honour to
Who should pay good mind to after Allah
And rasulullah,

Comes your mother
Who next?
Your mother
Who next?
Your mother
And then your father [lyric continue…]

Coz who used hold you and clean you and cloth you
Who used feed you and always be with you
When you were sick stay up all night holding you tight
That’s right no other
My mother

Who should I take good care of giving all my love
Who should I think the must of after Allah
And rasulullah
Comes your mother
Who next?
Your mother
Who next?
Your mother
And then your father

Coz who used hear you before you could talk
Who used to hold you before you could walk
And when you fell who’d pick you up clean your cuts
No one but your mother
My mother

Who should I stay right close too listen most too
Never say no to after Allah
And rasoolilallah
Comes your mother
Who next?
Your mother
Who next?
Your mother
And then your father

Coz who used to hug you and buy you new clothes
Comb your hair and blow your nose
And when you cry who’d wipe your tears knows your fears
Whoooo really cares
My mother

Say allhamdulilah thank you Allah
Thank you Allah for my mother

Read More......

Thursday, December 9, 2010

Kisah Sedih dari Makhluk Allah

Kisah ini merupakan kisah tauladan, sangat inspiratif dan mendidik. Kami mengutipnya dari akun facebook milik Ukhti Jeanny Dive, semoga bermanfaat.
Bismillaahir rohmanir rohiim. Assalamu'alaykum warohmatullahi wa barokaatuh.


Saudara-saudariku tercinta yang dirahmati oleh Allah ta'ala...


Sesungguhnya seluruh makhluk ciptaan Allah ta'ala itu, pasti akan dihimpun kembali oleh Allah pada 'yaumul qiyamah' nanti. Binatang, tumbuh-tumbuhan, hingga makhluk ghaib yang tidak tertangkap oleh indera kita sekali pun, juga merupakan makhluk-Nya yang berkaum-kaum dan umat sebagaimana kita selaku manusia. Untuk itu marilah kita saksikan firman Allah ta'ala yang menyebutkan perihal ini :

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Allah mereka dihimpunkan." (QS. Al-An'aam {6}:38).

Oleh karena mereka juga umat seperti kita, maka (semisal) binatang, tentu di antara mereka juga terdapat naluri rasa kasih dan sayang, serta saling mencintai di antara sesama jenis atau kaumnya. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi mereka saling membenci bahkan saling membunuh! :'( Maka sebagai makhluk (sejenis) yang bersaudara, tentu saja kita ingin mengetahui "kesamaan" kita dengan binatang, dalam hal peranan cinta dan kasih sayang di antaranya.

Untuk itu duhai saudara-saudariku tersayang, saksikanlah adegan-adegan gambar berikut ini:




Tampak seekor burung betina terseok-seok di sebuah jalan raya. Bisa jadi ia sakit, sehingga tidak mampu mengepakkan sayapnya untuk terbang. "Ooh... kemanakah engkau mencari makanan wahai suamiku.." ucapnya lirih ~~~



"Istriku, maafkan aku telah membuatmu lama menungguku. Sekarang makanlah ini dulu, semoga dapat menguatkanmu, dan kamu dapat terbang agar kita segera pulang.." ajak sang suami kepada istrinya, dan berusaha menyuapi makanan yang di bawanya. Namun kondisi sang istri kian melemah, semakin lemah, lalu terbaring...





"Wahai istriku, mengapa engkau tak memakan makanan yang aku suapi? Dan mengapa pula engkau tidur di jalanan ini? Ayolah istriku, mari kita pulang..." Sang suami pun berusaha mengangkat tubuh istrinya yang sudah terkulai dan tidak bergerak lagi....


Mendapati istrinya yang sudah tidak bergerak dan terbujur kaku, barulah sang suami menyadari bahwa istrinya... telah mati!  "Istriku... bangunlah, bangunlah sayang... Jangan engkau tinggalkan aku seperti ini..." jerit sang suami...




"Yaa Allaah... hidupkanlah kembali istriku yaa Allah, hidupkanlah kembali yaa Allah... huu..huuu..." ratap sang suami memohon kepada Rabb-nya.

Namun akhirnya suami burung itu menyadari, bahwa pertemuan, jodoh, rezeki, dan maut merupakan kehendak dan ketentuan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Maka sang suami pun akhirnya pasrah dan berdoa... "Yaa Allah, bila ini sudah menjadi ketentuanmu, maka aku ikhlas. Ampunilah kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan oleh istriku, dan tempatkanlah ia di sisi-Mu yang terbaik. Yaa Allah, bila engkau mengizinkannya, pertemukan dan satukanlah kami kembali di Jannah-Mu. Sungguh aku mencintainya karena-Mu yaa Allah, maka dengarkanlah permohonanku ini. Inna lillaahi wa inna illaaihi rooji'uun..."

Wahai saudara-saudariku yang semestinya saling mencintai karena Allah...

Tidakkah engkau merasa malu ketika mendapati keberadaan suatu umat, dimana mereka sesungguhnya tidak memiliki akal, namun hanya dengan menggunakan nalurinya saja, mereka mampu bersaudara dan saling mencintai di antaranya...!?

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (dienul) Allah, janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran {3}:103).

Wahai hamba Allah yang semestinya bersaudara, hentikanlah permusuhan sesamamu. Jadikanlah perbedaan dan khilafiyah itu,sebagai rahmat yang memang ditakdirkan oleh Allah ta'ala untuk kita. Maka yakinlah wahai saudara-saudariku tersayang, bahwa Ukhuwah Islamiyah dan rapatnya barisan umat, merupakan KEMENANGAN Dien Islam yang sesungguhnya.

Yaa Allah, saksikanlah... ^_^,

Billaahi taufik wal hidayah,

Wassalamu'alaykum wr.wb.

~∂eanny♥divΞ

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9821/kisah-sedih-dari-makhluk-allah#ixzz17aHK6bdy




Read More......

Thursday, November 11, 2010

SI PENJUAL MINYAK WANGI (Perumpamaan bagi Sahabat Sejati)


Ada orang yang berkata kepada Abdullah bin Umar:
Si Fulan Al-Anshari meninggal dunia. Beliau berkata : “Semoga Allah merahmatinya.”
Mereka berkata: “Ia meninggalkan uang seratus ribu.”
Beliau berkata:”Tetapi uang itu tidak meninggalkannya.”
Ia tertimpa kondisi perekonomian yang sempit sekali.
Kondisinya menjadi amat buruk, harta bendanya menipis, dan teman-temannya pergi menjauhi…


Ia teringat, bahwa semenjak sepuluh tahun yang lalu ia mengajukan pengunduran diri dari pekerjaannya, dan beralih ke usaha bebas. Kondisinya otomatis berubah setelah pengunduran diri… hartanya berlimpah. Ia pindah ke sebuah villa besar, menikah dengan istri kedua. Bepergian kesana kemari, tak terhitung jumlahnya. Ia tenggelam dalam kesenangan dan kemaksiatan, tanpa batas. Saat terdengar adzan, sementara letak masjid hanya beberapa meter dari kantornya, ia tidak mau pergi untuk shalat. Bahkan dalam waktu yang lama sekali, ia tidak pernah bersujud. Ia sibuk sekali, sehingga tidak punya waktu untuk itu.

Di rumah, ia tak ubahnya seekor binatang. Makan, minum dan tidur. Bahkan mendidik anak saja ia tidak sempat. Tidak pernah ia bertanya kepada anaknya, apakah mereka mengenal shalat atau tidak. Dalam soal harta, baginya tidak ada bedanya antara halal dengan haram. Cara baginya bukan masalah penting, yang penting adalah hasil. Itu adalah kaidahnya dalam berbisnis. 


Akan tetapi kira-kira dua tahun yang lalu, urusan perekonomiannya memburuk. Ia berusaha melakukan tindakan yang mustahil, untuk tetap menjaga pekerjaan dan keuntungan-keuntungannya si masa lalu. Oleh sebab itu pekerjaannya mulai mengalami kesimpangsiuran. Bagaikan orang tenggelam yang berusaha mencari keselamatan. 

Mulailah mereka yang mencari keuntungan cepat mempropagandakan kepadanya proyek-proyek tertentu. Satu proyek gagal, tidak berhasil. Proyek yang lain hanya menghasilkan setengah dari modal. Dalam waktu dua tahun saja, sudah banyak hutangnya dan bertumpuk permasalahannya. Ia teringat bagaimana keadaannya dahulu sebelum berhenti bekerja. Sekarang pengeluarannya menggurita, sementara masukannya sedikit. Ia mulai mengambil hutang di berbagai bank. 

Hanya dalam waktu satu tahun saja, hutangnya sudah bertumpuk-tumpuk, sehingga ia tidak mampu lagi mengembalikannya. Beralihlah ia ke fase baru dalam kehidupannya yakni fase munculnya berbagai tuntutan di mahkamah dan di hadapan hukum serta kepolisian. Pekerjaannya sekarang hanyalah berusaha menangguhkan hak pihak yang menghutanginya ke waktu lain. Bulan demi bulan berlalu. Hutang semakin melilit. 

Bayangan penjarapun mulai terlihat. Terkadang dalam bentuk peringatan dan ancaman, terkadang juga dalam bentuk pengaduan dan dakwaan. Demikianlah yang dilakukan oleh pihak pemberi hutang… 

Ia menjual semua yang dimilikinya. Villanya, mobil-mobilnya, tanahnya-tanahnya, berbagai aset dagangnya. Semuanya bisa membayar sebagian besar hutangnya. Tinggal sedikit bagian hutangnya yang dibiarkan oleh para penghutangnya, karena merasa kasihan kepadanya. Ia pindah ke sebuah rumah kecil. Di situ ia berkumpul bersama istri dan sepuluh anaknya. Sopir dan pembantu? Sudah tidak lagi mereka miliki. Malam hari mereka lalui dalam kegundahan dan kesedihan. 

Di tengah kemelut persoalan tersebut, terbersit dalam hatinya keinginan berkunjung kepada sahabatnya, Muhammad. Mungkin ia bisa membantu dengan sedikit uang. Ia adalah sahabatnya di masa kecil, dan juga rekan kerjanya dahulu. 

Pergi mengunjunginya atau tidak? Karena ketika Muhammad mengunjunginya dua tahun yang lalu, ia merasa sesak dengan berbagai kemewahannya dan juga oleh suara-suara musik dan ribut-ribut di rumahnya. Tetapi sekarang kebutuhan mendesak… 

Ia membulatkan tekad dan mancari waktu yang tepat, yakni waktu ashar besok hari. Di pertengahan Ashar, ia mengenakan pakaiannya. 

Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Siapa? “Bilang saja tidak ada orangnya.” Rupanya ia adalah pemilik rumah yang hendak menagih uang sewa rumahnya. “Mana bapak kalian?” “Tidak ada di rumah.” Ia terpaksa mengundur kepergiannya setengah jam, sampai pemilik rumah itu menjauh dari rumahnya... 

Dengan tergesa-gesa ia keluar rumah dan mengendarai mobilnya, tujuannya adalah rumah Muhammad. Masih rumah yang lama, belum berubah. Ia sampai di rumah Muhammad tepat setelah adzan Maghrib. “Siapa di luar?” tanya orang di dalam. “Saya Shalih.” Jawabya. “Dia sedang ke masjid. Nanti ia pulang sesudah shalat.” Katanya. Ia segera mengendarai mobilnya sambil menundukkan kepala. Karena amatlah aib, jika menunggu dalam mobil sementara orang-orang lewat menuju masjid untuk shalat. Namun bagaimana kalau ia bertemu dengan Muhammad, lalu mendapatinya tidak shalat berjama’ah? Kemana ia harus pergi? 

“Aku belum berwudhu, sementara bila aku ingin shalat, ini sudah ada masjid.” Gumamnya. 

Ia pun berwudhu dan berangkat ke masjid untuk shalat. Ia mendapatkan shalat sudah di rakaat kedua. Seusai shalat, salah seorang Syaikh bangkit berdiri dan memegang pengeras suara. Setelah memuji Allah dan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Saya meminta waktu kalian lima menit saja.” Ia mulai berbicara tentang ketaatan. Bahwa ketaatan adalah sebab munculnya kebahagiaan dalam hidup. Tidaklah kalian mendengar firman Allah Ta’ala: 

]وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124}[

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepadaKu pasti ia akan mendapatkan kehidupan yang sempit.” (Thaha: 124) 

Kemudian ia menyinggung tentang bagaimana seseorang dapat konsekuen dalam hidupnya, menyebutkan beberapa faidah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ia juga menyebutkan tentang rizki. Aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Ini hal yang penting buat diriku. Ia mengiringkannya dengan firman Allah Ta’ala: 

…. ]وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ ….{3}[


“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, akan Allah berikan kepadanya jalan keluar. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, akan diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3) 

Artinya, rizki itu datang melalui pintu yang belum pernah kamu ketuk dan belum pernah kamu bayangkan. 

Ia sudah menyelesaikan waktu lima menit, dan sudah menunaikan janjinya. 

Aku berkata kepada diriku sendiri, “Andai saja ia tidak memenuhi janjinya.” Ucapannya masuk kedalam hatiku. Kemana perhatianku terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut. selama ini aku sudah tersesat. Tidak lagi mengenal Allah, selain dalam kesusahan ini. Alhamdulillah, kini aku sudah mengenalNya… 

Ia telah memberi pengaruh pada diriku demikian mendalam. Sementara jiwaku tengah hancur dalam hal materi. Ia telah membangkitkan kesadaranku bahwa semua yang kualami penyebabnya adalah kemaksiatan. Aku ingat akan kelalaianku. 

Air mataku berderai. Aku bersiap-siap dan keluar dari masjid. Nah, itu dia Muhammad… 

Kami masuk ke rumahnya. Allahu Akbar, ia adalah teman seumur hidup, begitulah perumpamaannya. Ia menyambutku dengan baik, pada saat dimana orang-orang disekitarku sudah berlarian. “Bagaimana kabar anak-anakmu? Bagaimana kesehatanmu? Bagaimana pula kondisimu sekarang?” tanyanya. “Wahai Muhammad, jangan tergesa-gesa. Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu.” Aku berbicara panjang lebar kepadanya. Kuceritakan segalanya secara rinci . selesai aku bercerita, ia mengutarakan kepadaku satu jawaban yang belum pernah aku dengar seumur hidupku. “Itu adalah rahmat Allah untuk dirimu. Engkau telah memakan yang haram, lebih banyak dari yang halal. Engkau juga telah meninggalkan banyak kewajiban agamamu dan menjauh dari Allah.. semoga hal ini juga dapat membangunkan hatimu. Agar engkau mengetahui bahwa materi (harta) itu tidak berarti apa-apa. Bahkan Allah akan membuat perhitungan kepadamu, sebagaimana dalam hadits: 

“Seseorang akan ditanya tentang empat perkara: Umurnya, untuk apa dia habiskan. Masa mudanya, untuk apa dia gunakan. Hartanya, dari mana ia mengambil dan kemana ia belanjakan. Dan tentang ilmunya, untuk apa dia gunakan.” 

Tetapi, alhamdulillah. Berapa hutangmu yang tersisa? Saya akan menanggung segala hutangmu yang tersisa. Dan rumah disebelah ini, sudah kubeli lima tahun yang lalu. Orang yang menyewanya sudah pergi dua bulan yang lalu. 

Muhammad bersumpah agar aku bisa tinggal di situ, sampai Allah memberi kemudahan kepadaku. Aku pun memeluknya. 

Sungguh ia orang yang shalih, dalam arti sesungguhnya. Seminggu kemudian kami tinggal di sebelah rumah Muhammad. Ia memiliki majelis setiap hari senin bersama teman-temannya, membaca beberapa buku agama. Anak-anakku mulai menghafal Al-Qur’an di masjid bersama anak-anaknya. Akupun mulai merasakan kenikmatan hidup. Keadaanku pun berangsur baik. Yang terpenting diantaranya adalah masalah agamaku dan rumah tanggaku. Seusai shalat Shubuh, aku duduk di masjid hingga matahari terbit.. 

Cahaya keimanan telah memasuki rumah tanggaku… 


Sumber : Perjalanan Menuju Hidayah, cet. Darul Haq, karya : Abdul Malik Al-Qasim 
Dinukil oleh : Abu Thalhah Andri abdul Halim

Read More......

Sunday, October 24, 2010

Menahan Emosi

" Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam berkelahi, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai emosinya tatkala marah " (Muttafaqun Alaihi)

Sahabat...

Ada banyak hal yang kadang sangat-sangat sepele tetapi karena sikapi dengan sangat reaktif dan emosional, tiba-tiba hal yang sepele itu menjadi sebuah masalah yang besar dan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang bijak.

Suatu hari seorang bapak makan disebuah restoran bersama dengan keluarganya. Ketika sedang asik menyantap makanan, bapak tersebut melihat disampingnya ada seorang anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan gelas dari mejanya. Airnya tumpah membasahi taplak meja dan baju si anak. Spontan ayah anak itu marah, “Mengapa kamu tidak hati-hati?” bentak si ayah. Si anak menangis. Si ayah makin memarahinya saja. Bapak yang lain menyaksikan kejadian itu hanya geleng-geleng saja. Menurutnya suasana makan keluarga tersebut seketika berubah menjadi kacau. Tentu saja keadaan tersebut tidak akan terjadi jika sang ayah mampu bersikap lebih bijak, sabar, dan tidak emosional.

Jika kita renungkan, dalam hidup ini ada banyak masalah yang muncul karena kita terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sederhana saja. Keadaan akan menjadi lain, keluarga tersebut akan makan dengan tenang dan bersuka-cita, jika si ayah berkata sambil tersenyum, “Lain kali hati-hati ya, nak.” Masalah pun selesai ! Si anak dan keluarga yang lain pun senang. Namun, yang sering terjadi adalah kita lebih mengutamakan amarah, menyalahkan orang lain, keadaan, dan dunia sekitar jika sedang ditimpa persoalan. Akibatnya kita kehilangan dua hal yang sangat penting dalam hidup ini, 

yaitu :

Pertama : Rasa Syukur

Jika terlalu sibuk menggerutu dan mengeluh, kita akan kehabisan waktu untuk bersyukur atas segala rahmat yang Allah berikan. Hari ini sebelum kita protes tentang menu dan rasa makanan dihadapan kita, pikirkanlah seseorang yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.

Sebelum kita mengeluh karena tidak memiliki banyak materi, pikirkanlah seseorang yang mengemis dijalanan hanya untuk mendapatkan sedikit belas kasihan dari orang lain.

Sebelum kita mengeluh karena wajah kita tidak secantik atau setampan yang kita inginkan, pikirkanlah seseorang yang memiliki wajah lebih buruk.

Sebelum kita mengeluh tentang kekurangan pasangan kita, pikirkanlah banyaknya orang yang bergumul meminta pasangan hidup.

Sebelum kita mengeluh tentang sulitnya hidup ini, pikirkanlah seseorang yang terbaring koma di rumah sakit, bahkan untuk memikirkan masa depanpun ia sudah tidak mampu lagi.

Sebelum kita mengeluh mengenai jarak yang harus kita tempuh ketika mengemudi, pikirkanlah seseorang yang juga menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki.

Ketika kita merasa lelah dan mengeluh tentang pekerjaan, pikirkanlah seseorang yang tidak mempunyai pekerjaankarena tidak memiliki kemampuan dan kesempatan seperti kita.


Kedua : Rasa Ikhlas

Kehidupan ini harus diterima dengan penuh Kebahagiaan tanpa suatu keharusan memiliki segalanya dengan berlebihan.

Jalan kebahagiaan adalah merasa senang pada diri kita, apa yang kita kerjakan dan apa yang kita miliki merupakan rahasia kekuatan, kepuasan, dan kehidupan pribadi yang berenergi tinggi.

Kebahagiaan menghubungkan kita dengan keindahan dan kekuatan semesta alam, dengan kekuatan tertinggi kita, dengan Sang Illahi.

Kebahagiaan berarti merasakan dan mengungkapkan kebahagiaan hidup, bergembira karena keindahan dan kekayaan sebagai makhluk.

Kebahagiaan merupakan daya pembebas ampuh yang melepaskan kreativitas, bakat, kemampuan, dan kecakapan kita.

Kebahagiaan mengilhami harapan. Kebahagiaan memberi makan hati dan jiwa. Kebahagiaan membawa semangat ke dalam hidup kita.

Kebahagiaan menular dan merupakan pemberian teerbesar yang dapat kita berikan kepada diri sendiri dan orang lain.Jalan kebahagiaan telah ada. Jalur itu senantiasa sudah ada menantikan kita…..

Kebahagiaan membuat tekanan darah kita yang tinggi menjadi normal, pernafasan menjadi lebih dalam dan teratur sehingga membawa lebih banyak oksigen kesel-sel tubuh kita.

Kebahagiaan meningkatkan vitalitas dan semangat sehingga kita akan merasa sehat. Kebahagiaan selalu memancar membasahi jiwa-jiwa yang kering dan tandus.

Kebahagiaan merupakan peristiwa dari dalam keluar. Kebahagiaan berasal dari dalam bathin kita untuk memberkahi dunia kita dan sekitar kita. Riak-riak gelombang Kebahagiaan itu melebar sambil membuat dunia menjadi lebih baik bagi kita semua.

" HANYA ORANG YANG SABAR YANG MAMPU SENANTIASA BERBAHAGIA "

Read More......

Thursday, July 22, 2010

Kenapa orang yang Idiot kaya, saya tidak?

“Orang pintar membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit, orang idiot membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.”
Gitu aja kok repot!
Kalimat ini sering terlontar oleh salah satu mantan presiden kita. Awalnya saya mengira kalimat ini tidak memiliki makna apa pun. Tapi coba simak dulu cerita berikut ini:

Sebuah perusahaan sabun ternama sedang melakukan rapat evaluasi tahunan. Dalam rapat ini, semua karyawan baik dari jabatan tertinggi sampai seorang satpam boleh mengajukan ide dalam rapat ini. Kasus yang diangkat dalam rapat kali ini adalah mengenai komplain yang dilakukan oleh kebanyakan konsumen. Salah satu masalah yang seriang dialami konsumen adalah sering didapati kotak sabun yang tidak ada isinya atau kosong. Banyak konsumen yang merasa tertipu saat membeli sabun dalam jumlah banyak. Dari 10 kotak sabun, paling tidak ada 1 kotak sabun yang ternyata kosong. Kesalahan ini merupakan kesalahan yang tidak dapat dihindari, terutama karena mesin produksi sabun yang sudah kuno.
Rapat segera dimulai. Pemimpin perusahaan sabun tersebut melemparkan masalah ini ke dalam rapat dan meminta masukan dari setiap karyawan. Siapa saja yang dapat memberikan solusi untuk mengatasi masalah ini akan mendapatkan kenaikan gaji sampai 3 kali lipat. Anda pun boleh ikut berpikir dan memberikan solusi. Seorang supervisor mengacungkan tangannya dan berkata, “Saya punya solusinya! Kita harus membeli mesin baru dari Jepang seharga Rp 10 milyar!” Melihat harga mesin yang begitu mahal, seorang manajer segera mengacungkan tangan dan berkata, “Saya punya solusi yang lebih baik! Kita bisa membeli mesin baru yang lebih murah dari Jerman seharga Rp 1 milyar!” Melihat harga yang begitu mahal, seorang direktur juga mengacungkan tangannya dan berkata, “Bagaimana kalau kita beli mesin bajakan dari China saja seharga Rp 100juta!” Melihat harga yang sangat murah, sang pemimpin perusahaan menyetujui solusi untuk membeli mesin dari China.
Tidak lama setelah keputusan rapat diambil, seorang office boy memberanikan diri untuk mengacungkan tangannya. “Saya punya solusi yang lebih baik! Bagaimana kalau kita membeli mesin dari Indonesia seharga Rp 250rb!” teriak Office Boy dengan lantang. Mendengar pernyataan konyol dari Office Boy ini, seluruh peserta rapat seketika tertawa terbahak-bahak. Namun pemimpin perusahaan mencoba untuk memberinya kesempatan dengan memberikan sejumlah uang tunai sebesar Rp 250rb.
Dua jam kemudian sang Office Boy kembali dengan membawa mesin yang ia beli dengan harga Rp 200rb (lebih murah Rp50rb dari yang dijanjikan). Dengan langkah mantap ia segera memasang mesin yang ia beli di depan kumpulan kotak sabun. Hasilnya luar biasa! Dengan mesin baru ini, semua kotak dipastikan terisi oleh sabun. Seluruh peserta rapat tercengang ketika melihat mesin yang dibeli oleh Office Boy ini adalah KIPAS ANGIN. Dengan kipas angin ini, semua kotak sabun yang kosong akan terbang ditiup angin dan menyisakan kotak sabun yang sudah terisi. Dengan alat sederhana ini, tidak ada lagi komplain mengenai kotak sabun yang kosong. Dengan hasil ini, Office Boy dengan lantang dan percaya diri berkata, “Gitu aja kok repot!”
“Orang pintar membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit, orang idiot membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Terkadang kepintaran yang kita miliki membuat kita berpikir terlalu kompleks. Kesederhanaan dalam berpikir sering kali membuat orang idiot lebih sering menangkap peluang dibanding dengan orang pintar. Saya tidak mengajak Anda untuk menjadi orang idiot, saya ingin mengajak Anda untuk memiliki sebuah kebiasaan baru. Apa pun masalah yang akan Anda hadapi di masa yang akan datang, berpikirlah sederhana dan katakan dengan lantang, “Gitu aja kok repot!”
Profesor dan nelayan
Suatu minggu, seorang profesor pergi untuk melakukan penelitian di sebuah pedalaman. Sulitnya medan perjalanan memaksa profesor ini untuk menempuh jalur lain yaitu sebuah sungai. Tanpa berpikir panjang sang profesor segera mencari seorang nelayan untuk menyeberangi sungai tersebut.
Selama perjalanan di atas kapal sang profesor bertanya kepada sang nelayan, “Apakah Bapak pernah belajar biologi?” Dengan polos sang nelayan menjawab, “Apa itu biologi? Makanan ikan ya?” Dengan nada menggurui sang profesor menjawab, “Masak Anda tidak tahu apa itu biologi? Itu artinya Anda sudah kehilangan 20 persen dari bagian hidup Anda!” Beberapa menit kemudian sang profesor kembali bertanya, “Apakah Bapak tahu apa itu fisika?” Dengan nada minder sang nelayan menjawab, “Yang pasti bukan makanan ikan kan?” Dengan nada yang meremehkan sang profesor menjawab, “Ck ck ck…, Anda sama saja sudah kehilangan 50 persen dari bagian hidup Anda!” Selang beberapa waktu sang professor kembali bertanya, “Kalau Anda tidak tahu apa itu biologi dan fisika, tentu Anda tahu tentang geografi, bukan?” Sang nelayan menjawab, “Saya memang idiot, saya pun tidak tahu apa itu geografi.” Dengan tertawa terbahak-bahak sang professor berkata, “Anda betul-betul kehilangan 80 persen dari bagian hidup Anda!”
Sesaat sebelum sang professor memberikan pertanyaan keempat, arus sungai mendadak berubah menjadi deras. Derasnya arus membuat kapal bergoyang dengan sangat keras. Sang professor tidak dapat menguasai keseimbangan dan terjatuh ke dalam sungai. Dengan panic sang professor berteriak, “LONTONG! Eh TOLOOONNGG!” Dalam keadaan panic sang nelayan bertanya, “Anda tidak bisa berenang?” Dalam keadaan timbul tenggelam sang professor menjawab, “Saya tidak bisa berenang!!” Dengan berani nelayan menjawab, “Kalau begitu Anda sudah kehilangan 100 persen dari bagian hidup Anda!”
Cerita ini mungkin hanyalah cerita fiksi belaka, namun inilah yang sering kali terjadi dalam kehidupan nyata. Seorang yang sangat pintar belum tentu bisa menggunakan pengetahuannya untuk bertahan hidup. Pengetahuan adalah kekuatan sampai Anda menggunakannya.
“KNOWLEDGE IS NOTHING, APPLYING WHAT YOU KNOW IS EVERYTHING.”
Reuni SMA
Juara 1 lomba lari marathon, mendapatkan nilai 9 pada mata pelajaran Olahraga, mendapatkan nilai 8 pada mata pelajaran Agama, itulah “sebagian” dari prestasi saya. Orang-orang kagum melihat “sebagian” dari prestasi yang saya miliki. Tapi itu hanya sebagian, sisanya? Nilai 4 untuk mata pelajaran Matematika, nilai 4 untuk mata pelajaran Kimia, nilai 5 untuk mata pelajaran Sejarah, dan nilai 5 untuk mata pelajaran Komputer. Bagi anda yang memiliki nasib yang serupa dengan saya, tenang saja karena ini barulah permulaan!
Saya tidak sendirian dalam persaingan memperebutkan nilai terburuk di sekolah, ada sekitar 5 teman yang tidak kalah idiotnya dibanding saya. Mereka lebih senang bermain dibandingkan belajar. Suatu ketika seorang guru Fisika memarahi salah satu teman idiot saya dan berkata, “Kalau otak dan kepalamu bisa dibuka, pasti isinya kosong!” Saya dan teman idiot saya tidak akan pernah bisa melupakan kata-kata itu.
Seiring berjalannya waktu, kamipun beranjak dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing. Setelah cukup lama tidak bertemu dengan teman-teman SMA, kami dipertemukan kembali dalam sebuah reuni. Dari reuni inilah saya melihat sebuah kenyataan yang sangat ironis. Teman-teman idiot saya telah berubah menjadi orang yang sangat sukses. Mereka memiliki bisnis sendiri dan penghasilan yang besar. Teman idiot saya juga telah membeli sebuah rumah dan mobil pribadi di usia 20 tahun. Sebaliknya beberapa teman saya yang terbilang cukup pintar dan berprestasi, mereka lebih memilih rasa aman dan menggantungkan masa depan mereka sebagai karyawan. Mereka tidak lebih sukses dibanding dengan teman idiot saya. Mungkin Anda bertanya “Kenapa orang yang idiot kaya, sementara saya tidak?” Teruslah membaca!
5 Perbedaan orang pintar dan orang idiot
1. Orang pintar menyukai kepastian, orang idiot menyukai ketidakpastian.
2. Orang pintar terlalu serius, orang idiot suka bersenang-senang.
3. Orang pintar tahu, orang idiot tidak tahu.
4. Orang pintar senang menjadi pengamat sejarah, orang idiot senang menjadi pelaku sejarah.
5. Orang pintar cepat tersinggung dan tidak mengakui kesalahan, orang idiot pemaaf dan mengakui kesalahan.
Orang pintar menyukai kepastian, orang idiot menyukai ketidakpastian
Sebagian besar orang-orang terkaya di dunia tidak menyelesaikan bangku kuliahnya. Mereka adalah orang-orang idiot yang mempekerjakan orang-orang pintar. Murid dengan nilai A akan bekerja untuk murid dengan nilai B, murid dengan nilai C akan mengelola bisnis, dan murid dengan nilai D akan memiliki gedung dengan nama mereka sendiri. Murid dengan nilai A menyukai kepastian, sementara murid dengan nilai D menyukai ketidakpastian.
Kepastian terkait dengan rasa aman. Orang pintar belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan kepastian. Dengan nilai yang tinggi, mereka merasa lebih pasti dalam melangkah ke masa depan. Mereka lebih senang menjadi karyawan dan mendapatkan kepastian penghasilan berupa gaji tetap. Mereka senang membeli asuransi untuk mendapatkan kepastian, mereka senang menabung untuk mendapatkan kepastian, dan mereka senang membuat rencana untuk mendapatkan kepastian. Orang pintar tidak menyukai bisnis, karena segala sesuatunya penuh dengan ketidakpastian.
“Segala sesuatu yang pasti, hasilnya pasti kecil, tetapi segala sesuatu yang tidak pasti, hasilnya tidak pasti besar.”
Berbeda dengan orang pintar, orang idiot suka dengan ketidakpastian. Mereka membenci rutinitas dan sangat menyukai tantangan baru. Mereka senang dan bersemangat dalam mengambil risiko. Tidak semua risiko yang mereka ambil berujung pada kesuksesan, mereka juga sering menemui kegagalan. Namun mereka menikmati kegagalan sebagai proses pembelajaran. Mereka lebih senang membangun bisnis mereka sendiri. Fakta mengatakan bahwa 70% orang terkaya di dunia adalah pengusaha yang membangun bisnis mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan kenapa orang yang idiot kaya, sementara orang yang pintar masih bekerja dan menjadikan atasannya kaya raya.
Orang pintar terlalu serius, orang idiot suka bersenang-senang
Orang pintar selalu berpikir bahwa bekerja keras adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan financial. Mereka termasuk golongan 7P. Anda masih ingat golongan 7P? Mereka Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan. Mereka terlalu serius dan jarang bersenang-senang.
Berbeda dengan orang pintar, orang idiot percaya bahwa kreativitas adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan financial. Kreativitas tidak muncul pada saat kita sedang tegang dan serius, kreativitas muncul pada saat kita sedang bersantai dan bersenang-senang. Cari waktu luang, matikan semua telepon, pergilah ke tempat favorit Anda, ajak teman-teman terbaik Anda, dan bersenang-senanglah !
Orang pintar tahu, orang idiot tidak tahu
Kenapa idiot kaya dan saya tidak? Karena orang pintar tahu cara menghitung, tahu cara mengukur, dan tahu cara memprediksi segala sesuatu. Karena mereka tahu cara menghitung, mengukur, dan memprediksi, maka mereka tahu bahwa yang akan mereka kerjakan sangat berisiko. Karena mereka tahu apa yang akan mereka kerjakan sangat berisiko, mereka memilih untuk tidak mengambil risiko tersebut.
Sebaliknya, karena orang idiot tidak tahu cara menghitung, mengukur, dan memprediksi, maka mereka tidak tahu bahwa yang akan mereka kerjakan sangat berisiko. Karena mereka tidak tahu apa yang akan mereka kerjakan sangat berisiko, mereka segera mengambil tindakan dan berhasil.
Orang pintar senang menjadi pengamat sejarah, orang idiot senang menjadi pelaku sejarah
Suatu hari saya sedang menonton pertandingan sepak bola bersama dengan teman-teman saya. Pertandingan berlangsung sangat sengit, dan yang sengit bukan hanya pertandingannya melainkan adu mulut yang terjadi antara pendukung kesebelasan.
Ada satu kejadian yang sedikit menggelitik hati saya. Pada detik-detik terakhir pertandingan, seorang pemain bernama David Beckham mendapatkan peluang emas untuk mencetak gol melalui tendangan pinalti. Namun ternyata David Beckham tidak memanfaatkan peluang emas tersebut dan gagal mencetak gol. Pada saat itu juga, kata-kata hinaan mulai terlontar dari mulut teman-teman saya, “Goblok! Cuma menang tampang doang! Idiot! Nenek-nenek bisa lebih baik dari itu!”
Kenapa kejadian tersebut cukup menggelitik saya? Coba Anda perhatikan dengan lebih jeli, walaupun David Beckham gagal mencetak gol dan mendapatkan banyak cercaan, David Beckham tetaplah pemain sepak bola terkenal dengan bayaran yang sangat tinggi. Cercaan orang-orang tidak membuatnya berhenti di gaji, sebaliknya orang-orang yang mencerca tidak mendapatkan apa pun selain tenggorokan yang kering akibat berteriak. Bagaimanapun juga, menjadi pemain jauh lebih menguntungkan daripada menjadi penonton. Menjadi pelaku sejarah jauh lebih menyenangkan dibanding menjadi pengamat sejarah.
Saat saya memberikan talkshow di salah satu radio di Jakarta dengan tema “Kiamat Finansial Dunia Tahun 2012”. Saya mendapatkan banyak kritik dan cercaan pedas dari para pendengar. Dan saya yakin mereka yang mengkritik saya dengan pedas adalah orang-orang yang sangat pintar. Mereka adalah orang-orang yang senang menjadi pengamat, bukan pelaku. Walaupun saya mendapatkan banyak sekali kritikan dalam talkshow tersebut, seminar “Kiamat Finansial Dunia tahun 2012” berlangsung dengan sangat sukses dan dihadiri lebih dari 500 orang. Lalu bagaimana dengan orang yang mengkritik saya dulu? Mereka tetap duduk di pinggir sana, mengamati, dan siap untuk memberikan kritik-kritik pedas berikutnya. Apa pilihan Anda, pengamat atau pelaku? Pengkritik atau yang dikritik?
Orang pintar cepat tersinggung dan tidak mengakui kesalahan, orang idiot pemaaf dan mengakui kesalahan
Saya percaya bahwa kata-kata saya dalam bab ini sedikit keras dan mungkin menyinggung perasaan Anda (terutama bagi Anda yang merupakan golongan pintar). Itu semua saya lakukan dengan satu tujuan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Saya meyakini teguran keras yang membangun lebih baik dibanding dengan bujukan lembut yang menjatuhkan. Apabila ada perkataan saya yang tidak berkenan, dari lubuk hati yang paling dalam saya minta maaf.
Mohon tidak menggeneralisasikan dan mengambil mentah-mentah apa yang saya sampaikan pada bab ini. Beberapa kalimat yang saya tulis merupakan bentuk kalimat kiasan untuk mendukung bab ini. Ingat tidak semua orang pintar miskin dan tidak semua orang idiot kaya.
Dari buku UNLIMITED WEALTH by BONG CHANDRA

Read More......