BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
create your own banner at mybannermaker.com!
Showing posts with label Do'a Harian. Show all posts
Showing posts with label Do'a Harian. Show all posts

Monday, November 1, 2010

Do'a Iftitah


Keagungan Makna dalam Doa Iftitah

Para pembaca yang dirahmati Allah, telah disebutkan dalam sebuah riwayat:

قال أبو عبيدة بن عبد الله بن مسعود: " ما دام الرجل يذكر الله، فهو في صلاة، وإن كان في السوق. وإن حَرَّكَ به شفتيه، فهو أفضل.

Telah berkata Abu Ubaidah bin Abdullah bin Masud : ((selama seseorang berdzikir kepada Allah, maka dia dalam keadaan sholat, meskipun sedang di pasar, dan jika dia menggerakkan bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih utama)).


Hal terpenting yang dituntut dari orang yang sholat adalah selalu khusyu dalam sholatnya, karena khusyu merupakan inti ibadah, diantara sebab yang dapat mendatangkan kekhusyu’an dalam sholat adalah: mentadabburi ayat-ayat dan zikir-zikir yang dibacanya dalam sholat, dan berinteraksi dengannya dan menjiwainya, dan hal itu tidak dapat dicapai kecuali dengan memahami makna yang terkandung dalam bacaanya, oleh karena itu kita harus memahami makna bacaan zikir- zikir yang selalu kita ulang-ulang sehingga dapat mentadabburi maknanya.

Termasuk doa yang selalu kita ulang dalam sholat adalah doa iftitah. Meskipun kita tidak wajib membacanya, namun karena makna yang terkandung didalamnya maka sebaiknya kita tidak meninggalkannya.

Ada beberapa riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai doa-doa iftitah, dimana hal itu menunjukkan bahwa kita diberikan pilihan untuk mengamalkan salah satunya seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, namun disini kami akan menyampaikan riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu anhu yang merupakan riwayat paling masyhur dalam rangka menambah wawasan kita.

Riwayat doa iftitah ini dibaca dalam sholat fardhu:

أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ :كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa terdiam antara takbir dan bacaan, lalu aku bertanya: Ya Rasulullah ! ayahku dan ibuku sebagai tebusanmu ! ceritakan kepadaku diammu antara takbir dan bacaan, apa yang anda ucapkan ? beliau berkata: Aku mengucapkan: Allahumma baa’id baini wabaina khothoyaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khothoyaya kamaa yunaqqos tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh silni mi khothoyaya bitsalji walmaai walbarod (Ya Allah jauhkan dariku dan kesalahanku sebagaimana Engkau Menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkan aku dari kesalahanku sebagaimana dibersihkannya baju putih dari noda. Ya Allah basuhlah kesalahanku dengan salju, air dan es) Shahih.HR Bukhari (744), Muslim (598/147), Nasai (894), Abu Dawud (781), dan Ibnu Majah (812) dan ini lafadz Muslim.

Syarah hadits: (Baa’id baini wa baina khothoyaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib ): menjauhkan antara timur dan barat adalah jarak terjauh yang ditempuh manusia, jadi maknanya: jauhkan antara aku dan perbuatan tersebut sehingga aku tidak bisa melakukannya, dan jauhkan antara aku dan hukumannya jika aku sampai melakukannya.

(naqqini min khothoyaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas): kalimat ini menunjukkan bahwa maksudnya adalah kesalahan yang telah dilakukannya. Dan setelah dibersihkan dia berkata: (ighsilni min khothoyaya bil maai wats tsalji wal barod ).

Jadi secara dhahirnya bahwa kalimat pertama bermaksud supaya dijauhkan, yakni supaya aku tidak melakukan kesalahan, kemudian jika aku melakukannya, maka bersihkanlah aku darinya, kemudian hilangkanlah bekas-bekasnya dengan tambahan kesucian dengan air, salju dan es, sehingga hati kita melewati proses-proses pembersihan yang sempurna.

Kaitannya dengan menggunakan salju dan air es disini, bahwa dosa-dosa berakibat kepada siksaan api neraka, sedang api itu panas, dan panasnya api dapat dibersihkan dengan sesuatu yang dingin.

Wallahu A'lam.

Read More......

Doa Saat Keluar Dari Rumah

Oleh: Badrul Tamam

Dalam keseharian kita, aktifitas keluar rumah untuk bekerja, usaha, belajar, ibadah, dan lainnya menjadi rutinitas. Hampir setiap kita melakukannya. Banyak tujuan baik yang kita inginkan saat keluar dari rumah, namun tidak sedikti bahaya yang mengintai kita ketika berada di sana. Berikut ini kami tuliskan dzikir dan doa yang dibaca saat keluar rumah, supaya kegiatan di luar menjadi lebih barakah, mengahasilkan banyak kebaikan dan pahala serta terhindar dari berbagai keburukan.



بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ


Bismillaahi Tawakkaltu ‘Alallaah Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.”

Dasar Dzikir

Dzikir/doa di atas diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca,

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.”

Beliau bersabda, Dikatakan pada saat itu, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dijaga. Maka Syetan menjauh darinya sehingga syetan yang lain berkata kepadanya, “Kaifa laka birajulin? (Apa yang bisa engkau lakukan terhadap seseorang) yang telah diberi petunjuk , telah dicukupkan, dan telah dijaga?” (HR. Abu Dawud no. 4431, al-Tirmidzi no. 3348, Ibnu Hibban no. 823, dan Ibnu Sunni dalam ‘Amal al-yaum wa al-Lailah, no. 177. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi no. 3426, Al-Misykah no. 2443, juga dalam Al-Kalim al-Thayyib)

Manfaat dan Faidahnya

Dzikir ini penuh dengan kebaikan, keberkahan, dan manfaat yang diinginkan setiap muslim. Karenanya seorang muslim hendaknya senantiasa merutinkan dzikir ini ketika keluar rumah untuk memenuhi hajat duniawi atau ukhrawinya. Seperti pergi ke masjid, ke pasar, bersafar, ke tempat kerja, atau dalam melaksanakan ibadah haji.

Dengan senantiasa merutinkan dzikir ini dan juga dzikir-dzikir lainnya, seorang hamba akan memiliki hubungan yang baik dan erat dengan Rabbnya. Dengan membaca doa ini seorang hamba mengingatkan dirinya akan kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya dan dengan izin-Nya. Bahkan dia meyakini tidak ada kejadian di muka bumi ini kecuali dengan izin dan kehendak-Nya. Sehingga hamba tersebut akan merasa butuh dengan Rabb-nya untuk mendapatkan berbagai kebaikan bagi dirinya, sehingga dia akan selalu bertawakkal kepada-Nya.

Sebagai balasannya, seorang hamba yang membaca dzikir ini akan mendapat penjagaan, pertolongan, dan bimbingan dari Allah dalam menunaikan hajat dunia maupun agamanya. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga, penolong dan pemberi petunjuk.

Manfaat lain yang akan diperoleh hamba, dia akan terjaga dari godaan dan gangguan syetan. Syetan akan menjauhinya. Bahkan syetan merasa berputus asa dari menggodanya, sehingga salah satu mereka akan berkata kepada yang lainnya, “(Apa yang bisa engkau lakukan terhadap seseorang) yang telah diberi petunjuk, telah dicukupkan, dan telah dijaga?”

Secara ringkas, bahwa doa ini memiliki manfaat sebagai berikut:

Akan senantiasa mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Orang yang bergantung kepada Allah melalui doa ini maka Allah akan senantiasa membimbingnya ke jalan yang benar. Dan barangsiapa yang dibimbing oleh Allah, tidak mungkin ada yang dapat menyesatkannya.
Akan dibantu dalam menjalankan tugas dan hajatnya, baik yang bersifaf duniawi atau ukhrawi. Sehingga dia akan mendapatkan hasil yang baik dan berbarakah.
Akan terlindung dari gangguan musuh dari kalangan jin ataupun menusia.
Orang yang berdzikir dengan doa ini akan memiliki benteng dari syetan sehingga syetan akan menjauh darinya. Bahkan jika ada syetan lain yang ingin menimpakan kemudharatan kepadanya, maka syetan lainya akan mengingatkannya, “Apa yang bisa kamu lakukan terhadap orang yang sudah diberi petunjuk, diberi kecukupan, dan dilindungi.”
Adakah Dzikir Keluar Rumah Lainnya?

Masih ada dzikir lain yang disyariatkan untuk dibaca saat keluar rumah. Yaitu:



اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل ، أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَُظْلَـم ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ


Allaahumma Innii A’udzubika an Adhilla au Udhalla, au Azilla au Uzalla, au Azlima Au Uzlama, au Ajhala au Yujhal ‘Alayya

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilin orang lain.”

Dasar riwayatnya

Dari Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam keluar dari rumahku kecuali beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu beliau membaca:

اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل ، أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَُظْلَـم ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilin orang lain.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Misykatul Mashabih no. 2442)

Kandungannya

Doa ini merupakan doa yang agung, senantiasa dibaca oleh Nabi kita yang mulia pada setiap beliau keluar rumah, sebagaimana yang dinyatakan Ummu Salamah dalam hadits di atas.

Beliau membaca doa ini sambil menghadapkan pandangannya ke langit menunjukkan akan keimanan terhadap sifat tinggi Allah Ta’ala dan keberadaan di atas makhluk-makhluk-Nya. Dia bersemayam di ‘Arsy-Nya. Senantiasa mengawasi hamba-hamba-Nya dan menyertai mereka dengan ilmu, pengawasan, dan pertolongan-Nya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya, baik yang di bumi maupun di langit. Tidak ada perbuatan kecuali Dia menyaksikan. Dan tidak ada satu ucapan kecuali Dia mendengar-Nya. Karenanya seorang hamba hendaknya sadar akan ke-mahakuasaan Allah Ta’ala ini dengan merasa dilihat, didengar, dan diawasi oleh-Nya. Lalu diikuti dengan keyakinan bahwa Dia Maha mendengar panjatan doa, melihat keadaan hamba, dan Kuasa mengabulkan doa.

Karenanya seorang hamba hendaknya sadar akan ke-mahakuasaan Allah Ta’ala ini dengan merasa dilihat, didengar, dan diawasi oleh-Nya.

Lalu diikuti dengan keyakinan bahwa Dia Maha mendengar panjatan doa, melihat keadaan hamba, dan Kuasa mengabulkan doa.

Orang yang keluar rumah pasti dia akan bertemu dan berinteraksi dengan manusia. Sedangkan sifat manusia ada yang baik dan buruk. Karenanya mungkin sekali terjadi interaksi dan saling mempengaruhi dalam berbagai perkara dan penyimpangan yang harus dijauhi olehnya. Maka dalam doa ini, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam mengajarkan perlindungan yang komplit, yaitu berlindung dari kesesatan, ketergelinciran, kedzaliman, dan kejahilan. Keempat hal ini membahayakan dan menghancurkan bagi hamba apabila dia terjerumus kepadanya. Keempat keburukan tersebut bisa terjadi tertuju kepada orang lain atas tingkahnya. Dan juga bisa tertuju kepada dirinya atas tingkah orang lain. Dan doa perlindungan dari keempat keburukan ini tertuju pada dua sisi, baik karena perbuatannya sehingga menimpa kepada orang lain atau atas perbuatan orang lain sehingga menimpa pada dirinya.

Allahumma Innii A’uudzubika an Adhilla au Udhalla (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku dan disesatkan orang lain), adalah permohonan kepada Allah agar menjauhkannya dari kesesatan yang menjadi lawan hidayah (petunjuk). Kesesatan bisa dari dirinya sendiri yang terjerumus ke dalam perbuatan dosa, maksiat, dan berbagai penyimpangan atau dia menyesatkan hamba Allah yang lain. Sedangkan kata Udhalla (aku disesatkan), maksudnya: orang lain menyesatkanku.

Terkadang seseorang ketika keluar dari rumahnya dalam kondisi baik dan tentram. Dia tidak ada niatan ingin berbuat buruk dan menyimpang. Lalu di tengah jalan, dia bertemu dengan seseorang yang menyesatkannya dari jalan ketaatan, sehingga dia menyimpang. Dari sini, apabila keluar rumah disunnahkan berlindung kepada Allah dari kesesatan dirinya, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan oleh orang lain.

Au Azilla au Uzalla (tergelincir atau digelincirkan), zulal adalah terjatuh dan tersungkur tanpa disadari oleh seseorang. Maksudnya berlindung dari tergelincir adalah berlindung dari terjerumus ke dalam dosa, kesalahan, dan penyimpangan tanpa disadari. Sedangkan berlindung dari digelincirkan, berlindung agar orang tidak melakukan hal itu kepadaku dengan menjerumuskanku dalam penyimpangan dan kehancuran tanpa kusadari.

Maksudnya berlindung dari tergelincir adalah: berlindung dari terjerumus ke dalam dosa, kesalahan, dan penyimpangan tanpa disadari.

Azlima au Uzlama (menzalimi dan dizalimi), memohon kepada Allah agar menjaga dirinya supaya tidak menzalimi orang lain dalam harta, fisik, kehormatan, atau lainnya. Karena kezaliman akan menjadi kegelapan dan kesengsaraan pada hari kiamat.

Sedangkan berlindung dari dizalimi, adalah berdoa agar tidak menjadi korban kezaliman orang atas fisik, harta, dan kehormatan dirinya atau yang lainnya. Maka dia berdoa agar dijauhkan dari menzalimi orang lain dan dizalimi orang lain.

Sedangkan makna berlindung dari kejahilan diri dan dijahili orang lain, adalah berlindung dari berbuat perbuatan orang-orang bodoh dan berada di atas jalan orang-orang tolol, berupa mencela, mencaci, menghina, meremehkan, dan lainnya, atau seseorang melakukan hal itu kepada diriku. Maka doa ini berisi perlindungan kepada Allah dari melakukan perbuatan orang-orang bodoh atau menjadi korban pebuatan tersebut yang dilakukan orang.

Inilah petunjuk Nabi kita shallallaahu 'alaihi wasallam yang tidak ada satu kebaikan kecuali dia sampaikan dan perintahkan; dan tidak ada keburukan kecuali sudah dia terangkan dan peringatkan agar tidak melakukannya.

Semoga Allah menjaga diri saya, Anda, dan sekalian kaum mukminin dari keempat keburukan di atas, melalui doa yang kita baca saat keluar rumah. Hadanallaah wa iyyaakum ajma’iin. 
[PurWD/voa-islam.com]

Read More......

Saturday, September 4, 2010

Sayyidul Istighfar




Kapan membacanya?


Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

Kandungan maknanya?


Ini adalah doa agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.


Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

- Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.

- Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.

- Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.

- Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.

- Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia keutamaan dan anugerah-Nya.

(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. )

Read More......